Terlambat

“Mbak, barang belum sampe, acara saya jam 4!”

Jam 11, pesan itu masuk ke HP saya. Weits.. kaget bukan kepalang saya. Memang sih, pesanan sist Aling (nama disamarkan) ini memang sudah bermasalah dari kemaren. Pasalnya, barang yang harusnya 1 atau 2 hari sudah sampai, di hari ke 4 pengiriman, belum juga sampai. Saya, sudah mengontak pengiriman yang membawa barang itu, cek gudang, cek kurir, semua. Tapi hasilnya, biasa, oper-mengoper tanggung jawab selalu saja ada di situasi macam ini.

Kurir Ojeg, akhirnya saya jadikan solusi sementara mengcover keterlambatan barang ini. Saya udah sampaikan ke sist Aling, kalau sampai barang belum dating juga, saya akan kirim ojeg ke gudang pengiriman (Cakung) dan langsung kirim ke alamat sist (Depok), mohon sabar ya… Kalimat saya, rupanya membuat sist Aling lumayan tenang. Sebaliknya dengan saya yang semakin kacau saja karena barang itu belum ada kejelasannya, dimana, ada sama siapa?

Kalaupun ada di gudangnya yang jauh itu, saya sudah gadang-gadang kurir saya dating dan siap menempuh perjalanan yang luar biasa panjangnya ke Depok nanti. Sekali lagi saya coba hubungi bagian gudang pengiriman. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya tersambung juga,

“Oh, barang sudah sama kurir bu, mohon ditunggu saja” begitu suara lembut diseberang sana menjawab Tanya saya.

“Jam berapa kira-kira sampai ya mbak?”

Kami tidak bisa pastikan, itu tergantung arah kurirnya kemana saja”

What???

Ini lebih bikin saya deg-deg an lagi. Kalaupun barang itu ada di gudang atau kantor cabang mereka, saya masih bisa menjemput barang itu dan lalu mengantarnya pada pelanggan. Tapi ini, barang tidak jelas dimana, sudah dibawa sejauh mana, dan yang paling mengerikan, akan sampai jam berapa???? L

Jam merayap dengan cepat, sekarang tepat jam 2 siang. Ah, diambil kurir untuk diantar lagipun dengan jarak Cakung Depok, tentu gak bakal keburu. Untuk itu saya memilih pasrah saja, percaya sama kurir pengiriman, insyaAllah bisa sampai, tepat waktu.

Saya mengambil wudhu, kemudian dhuhur, waktu sholat yang sudah sangat terlambat. Tapi, saya akan lebih menyesal kalau tertinggal kan? Lebih baik segera sholat, agar tenang, begitu piker saya. Saya sujud lamaaa sekali, rasanya tak ingin selesai waktu sholat saya, karena dengan sholat saya jauh-jauh lebih tenang, dan deg deg an keterlambatan barang tadi tiba-tiba menghilang. Saya mencoba tenang, satu saja doa saya selama sholat itu

“Ya Allah, barang itu sangat penting buat sist Aling, mudahkanlah agar sampai tepat waktu, pasrahku, padamu…bismillah…”

Bib..bib.. pesan masuk ke HP saya,

“Mbak, terimakasih banyak, saya seneng sekali, barang sudah sampai dan bagusss banget, makasih ya sudah care banget sama barang saya”

Subhanallah,,,, Alhamdulillah…tidak pake menunggu, doa saya, dijawab Nya..

Air mata saya tak terbendung lagi, senang, plong dan yang pasti amat sangat bersyukur, saya tau Allah SWT begitu mencintai saya, Allah SWT menjagaku dari rasa malu, menjaga ku dari kepercayaan pelanggan, dan menjaga janjiku, ya Rohman Ya Rahim, Terimakasih,, Allahuakbar…

Nikmat mana lagi yang hendak kami ingkari???

“Saat kita telah mengupayakan hal yang benar

namun belum bertemu titik temu penyelesaian,

Saat kita tak tau harus berbuat apa, Berdoalah…

Allah tau apa yang kita perlu..

b0e8c87d62743402c791bb39e0194313_paket-baju-kantong-gabIni barang yang ditunggu itu,, :)

b512a468ab973f323fa912fcec3dbc9f_iyha-123

Mobil ke 3

Pengennya sih setiap hari, tapi kok susah sekali!

Huft, saya mulai sebal sendiri, rasanya pengen mengisi blog ini dengan berbagai coretan saya tiap hari, kok gak pernah bisa. Waktu? Ah, selalu saja jadi kambing hitam. Aslinya, saya yang terlalu menggampangkan, atau malah terlalu focus untuk mencapai target (mengisi blog tiap hari).

Focus, itu memang perlu. Gak ada satu pekerjaanpun yang akan selesai tanpa adanya focus atau perhatian penuh pada yang kita kerjakan. Tapi kelewat focus, justru akan menjadikan kita lelah, pengennya perfect, padahal gak ada yang bisa sempurna, sebagaimanapun fokusnya kita. Kelelahan yang menumpuk itu justru membuat kita tak melakukan apa-apa.

Siang kemaren, saya ada kesempatan silaturahim ke rumah kakak ipar. Kendaraan favorit saya, tentunya taksi (punya anak, repot bermanja-manja di boncengan belakang motor mas Nakho, hehe. OK, bukan soal kendaraan favorit, tentang motor apalagi tentang saya yang punya anak. Saya ingin bercerita bahwa bapak supir taksi yang sedang membawa kami itu, sudah punya 2 mobil, dan mobil sedang kita tumpangi itu adalah calon mobil ke 3 nya whats?? Pengen,hihih.

Bagaimana beliau bisa punya mobil, apalagi sampai 3? “Jangan terlalu mikirin bisa bayar cicilan atau gak mbak, yang penting kerja terus yang rajin, seperti biasa, kebutuhan rumah dulu terpenuhi, nanti lunas sendiri”

Memang, perusahaan tempatnya bekerja, menyediakan fasilitas “kredit” bagi para juru mudi, untuk bisa memiliki taksi yang sedang jadi tanggung jawabnya dengan cara memotong uang setoran wajib dijadikan angsuran. Kalau hari ini gak bisa memenuhi setoran, maka waktu pelunasan kredit tentunya mundur. Memudahkan, ya. Kalau begitu, semua juga bisa punya mobil..

Ups, jangan salah. Ada 3 hal yang saya garis bawahi, Kali ini saya tidak ingin bicara soal usaha dan doa, karena tentu dari semua keberhasilan, 2 elemen ini yang paling menentukan. 3 hal yang menurut saya menjawab “kenapa akhirnya si bapak ini bisa punya mobil”, diantaranya.

1. Niat

Niat, tentu saja. Semua karyawan di perusahaan taksi itu, ditawari kredit kepemilikan kendaraan ini. Tapi hanya sebagian saja yang mau mengambilnya. Alasannya tentu saja beragam karena setiap orang punya tolok ukur sendiri mengambil keputusan. Tapi, mereka yang mengambil kredit tersebut, tentunya punya niat yang kuat, disamping berani ambil resiko dan tentu saja percaya diri.

2. Prioritas

Kredit kepemilikan mobil itu, tidak wajib. Itu yang penting, kita harus ingat bahwa tentu saja yang menjadi kewajiban bapak supir taksi dan ayah manapun di dunia ini tentu memastikan nafkah untuk keluarganya, cukup. Bisa makan, bisa berpakaian pantas, dan bisa istirahat tenang tanpa gangguan panas hujan. Jadi, soal pembayaran kredit mobil tentu bukanlah prioritasnya. Yang pertama diperhatikan sungguh-sungguh adalah keluarganya. Trus kenapa mobilpun akhirnya terbayar? Karena semangat mengutamakan keluarga itulah mobilpun terbayar, karena kepemilikan mobil, sama juga dengan menyiapkan kenyamanan bagi keluarganya, walau bukan prioritas, tapi pasti diutamakan.

3. Managemen focus

Ini yang saya singgung diatas tadi. Bapak ini pandai memanagemen focus. Artinya, dalam pembayaran kredit mobil, beliau tentu memikirkan dan berusaha terus memenuhi, tapi tidak menjadikan itu beban apalagi sampai terobsesi dengan menghalalkan berbagai cara. Resepnya cukup, jalani saja, jangan terbebani, tapi tetap berusaha sepenuh hati. JIka kita terlalu focus pada beban kita, justru kita tidak akan pernah berusaha mencari tahu bagaimana cara mengurangi beban itu, ya kan??

Setiap orang punya target dalam hidupnya,

jangan pernah memikirkan APA tapi belajarlah mengurai BAGAIMANA mencapainya.

So, mari bekerja dengan happy, apapun beban kita.

Momong

31b5238b8a9f77dec0de4e6e5be8b522_momong

Siapa bilang jadi “Srikandi” itu harus menjadi atau melakukan hal-hal yang hebat??? Tidakkah kegiatan Momong anak oleh seorang ibu, sesuatu yang hebat dan sangat layak disebut seorang Srikandi??? monggo dikomen… hihihihi… :)

Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi. Sehari Menjadi Srikandi

Iseng???

Iseng, begitu jawaban dari 5 Siswi yang akhirnya gagal ikut Ujian Nasional itu. Ya, iseng, satu kata itu mewakili tingkah laku mereka pada siang hari itu yang mempertontonkan gerakan sholat dengan dipadu goyangan badan (dance) dengan music barat yang dinamis, masyaAllah, Naudzubillah….

Sepekan belakangan, rame tersiar kabar dan dapat dilihat di situs pengunggah video terlaris, Youtube. Dalam tayangan 5 menitan itu tampak beberapa siswi SMA N 2 Toli-toli yang asyik dance di ruangan kelas. Bukan dance nya yang disayangkan, namun mereka dengan santainya mencampur gerakan gerak lagu itu dengan gerakan sholat bahkan melafadzkan ayat-ayat suci, bacaan sholat yang dinyanyikan bak syair lagu saja. Pertama melihatnya, hanya bisa terbengong sambil mengucap dihati, innalillah…

6901700da87965d388f0d7e5c339f3ac_0

Ya, cuma kata itu yang saya ucap. Apalagi setelah dikorek apa alasan mereka melakukan hal itu, jawabannya hanya iseng, mengisi waktu sebelum tambahan materi. Hanya itu saja, iseng!

Buru-buru saya buka kamus, dan satu kata itu yang saya artikan disana. Iseng berarti sekadar main-main saja (daripada menganggur) untuk perintang-rintang waktu. Tak perlu dilihat di kamus pun, sebenarnya , kita semua tentu faham, apa itu iseng. Kalau saya mengartikan menurut bahasa saya, iseng itu kegiatan spontan untuk mengisi waktu. Dan, segala sesuatu yang spontan, tentu saja tidak melewati pemikiran ataupun pertimbangan hati, begitu saja dilakukan, ujug-ujug saja dijalankan.

Segala hal yang kita lakukan tanpa melibatkan otak ataupun hati, tentu hasilnya tak bisa kita prediksi bukan? Tidak ada target, tidak ada manajemen resikonya. Setelah terjadi hal-hal yang melenceng, yang kurang benar, yang tidak sesuai harapan, maka baru menyesal, baru merasa bersalah, baru merasa kenapa sih aku harus iseng?.

Kenapa kita iseng? Banyak sekali alasan untuk pertanyaan ini, tapi yang paling umum adalah karena kita menganggur, tidak ada pekerjaan, iseng-iseng untuk mengisi waktu. Memang sih, tidak semua iseng akan berakibat buruk atau negative. Ada juga iseng yang malah mengantarkan kita pada kesuksesan. Tapi isengnya yang bagaimana? Iseng, walaupun itu kegiatan spontan, tapi 100% adalah kegiatan yang menggunakan kesadaran penuh. Dan kesadaran penuh tentunya melibatkan penalaran yang didalamnya, melibatkan beberapa aspek, diantaranya moral, kreatifitas, dan yang paling mendasar adalah iman.

Saat kita berbuat iseng yang negative, tentu saja ketiga aspek itu tidak berjalan dengan baik, dan dapat dipastikan bahwa kita adalah orang yang loss control, terlewat batas dan bisa-bisa dikategorikan sakit kejiwaan dan rusak penalaran.. MasyaAllah…

Beginikah generasi muda kita sekarang? Mencampurkan moral dengan kesenangan, mengumbar kreatifitas lewat batas, lebih tragisnya mempermainkan iman dengan senda gurauan. Dan semua itu hanya dijawab dengan satu kata, ISENG???

Mari sama-sama selamatkan generasi bangsa kita.

Mari berfikir sebelum bertindak, menimbang dengan hati sebelum melangkah dan menguatkan penalaran sebelum membuat keputusan….

Pekerjaan paling mulia

Saya seperti menghilang beberapa pekan belakangan ini. Bukan sok sibuk dengan pekerjaan atau menghindari hiruk pikuk dumay yang lajunya semakin susah saja saya imbangi. Tapi satu kewajiban yang sama sekali tidak bisa saya wakilkan, telah memanggil. Apalagi kegiatan yang lebih penting daripada mengurusi anak bagi seorang ibu macam saya? Maka tugas itu dengan riang saya emban.

3 pekan kebelakang, Osar sakit. Badannya kadang panas kadang dingin. Tak mau gegabah, saya cepat bawa ke dokter.Bukan sakit yang serius, Alhamdulillah. Tapi, bebarengan obat diminum, osar juga mulai manjanya, praktis 7 hari seminggu itu dia tak mau lepas dari gendongan, dan nangis sepanjang waktu. Saya lelah, hampir hilang akal, maunya bagaimana anakku ini.

Terus saja menangis dan tak mau pindah tangan penggendong, bikin kita bingung, dan memutuskan untuk dibawa pulang kampung saja sementara waktu. Mungkin suasana baru di Tegal akan bikin Osar senang, suasana hangat keluarga dan udara yang masih segar insyaAllah bikin keceriaan Osar balik lagi, begitu pikir kita.

2 minggu penuh itu kita manfaatkan untuk refreshing, santai dan tidak terbeban pekerjaan. Osar, juga mulai keliatan mau senyum lagi dan gak melulu gendong. Mas Nakho yang memang sudah beberapa bulan kemaren memutuskan untuk usaha sendiri tak bingung dengan pekerjaan kantornya, karena memang sudah teken surat mundur. Sementara saya yang masih pekerja ini, tak punya pilihan lain demi melihat anak saya yang begitu membutuhkan saya, saya memilih mundur saja. Sebelum berangkat saya memang telah menghadap untuk ijin tidak bekerja lagi. Terpaksa mundur? Ah rasanya tidak. Anak saya lebih membutuhkan saya daripada perusahaan. Perusahaan akan mudah mendapat pengganti saya, sementara gak akan ada yang bisa menggantikan posisi saya untuk Osar, tentu saja.

Dan keputusan ini, InsyaAllah jalan dari Allah yang terbaik yang harus saya pilih dan syukuri. Resiko? Tentu saja selalu ada, mengikuti apapun pilihan hidup kita, tapi dibalik itu, manfaat tentu saja akan lebih banyak jika kita jalani dengan ikhlas dan niatan Lillahi taalla, semua untuk anak dan karena Allah, insyaAllah berkah dan dipermudah.

Maka, saat ini saya sudah mulai dirumah,menduduki tempat baru, sebagai pengangguran yang punya pekerjaan. Pekerjaan saya, insyaAllah menyenangkan dan tak kalah bergengsi dengan para wanita karier. Jika ikhlas dan disyukuri, insyaAllah rezekinya juga tak akan berkurang dari Allah SWT. Tertarik ingin gabung dengan saya? Menduduki posisi yang paling membanggakan bagi wanita, ya, pekerjaan ini akan saya tekuni benar-benar. Pekerjaan saya yang sungguh mulia, IBU RUMAH TANGGA.

Subhanallah, Allahu akbar semoga saya mampu :)

Sedikit catatan : Sebelum saya kembali ke ibukota, mami saya memuati tas dengan banyak sekali makanan, oleh-oleh untuk camilan disana, katanya. Sampai rumah, tas sarat beban itupun saya buka. Subhanallah.. berbagai makanan kegemaran saya berjejal disana, ah.. mami masih ingat betul apa yang menjadi kesenangan saya, begitulah ibu selalu mengingat apa yang anaknya suka, walaupun seringkali kita anaknya melalaikan apa yang menjadi kegemarannya

Semoga kita semua dimudahkan untuk menjadi anak yang sholeh/sholehah yang dapat selalu memenuhi hati orang tua kita dengan lafadz Hamdallah :)