Acungan jempol layak kita berikan sebagai apresiasi atas kreatifitas total para seniman di jaman kontemporer ini. Mengapa begitu? Ya, seniman di jaman ini benar-benar hadir di tengah kehidupan masyarakat sebagai ‘Penghibur’ yang cerdas, mereka tak lagi terpaku di satu kotak idealisme, justru mampu mengembangkan idealismenya menjadi karya yang lebih kaya. Karya-karya yang mereka tampilkan tidak monoton, banyak ledakan-ledakan kreatif dan visual-visual nyeleneh sebagai aplikasi penggalian ide yang bebas. Dalam menggodog ide, mereka melantur sejauh-jauhnya, mengembarakan ide sekehendak hati namun mereka tak lantas melupakan pakem disitulah cerdasnya.


Selain cerdas mereka “nakal”, itulah salah satu keistimewaan seniman jaman kontemporer ini. Nakal? Ya! Lihat saja, untuk menelurkan sebuah karya special, mereka menggali dari berbagai media dan menambah elemen apapun, bahkan mereka tak segan-segan meng-Adopt karya para masterpiece atau senior-senior kenamaan untuk di “acak-acak” dan kemudian diselaraskan (di-adapt-asi) ke dalam idealismenya, dirangkul ke dalam gaya khas mereka sendiri dan akhirnya ditampilkan sebagai karya baru dengan rasa baru si seniman. Tapi kenakalan yang cerdas inilah uniknya, proses Adopt! Adapt! ini kekuatannya.


Adopsi karya dikatakan kekuatan? Kenapa heran?

Itu kan menjiplak? Tentu saja bukan!


Adopt! Adapt! sebuah kekuatan yang lahir dari proses unik para seniman ini seolah ingin membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa seni adalah milik siapa saja, bahwa para senior yang terlebih dahulu mencipta suatu karya tak dapat mengklaim bahwa karya itu milik mereka bila dikemudian hari muncul karya baru hasil adopsi karyanya yang diselipkan elemen disana sini sebagai adaptasi gaya si pencipta baru. Seni adalah mahkluk dinamis yang lahir melalui proses, jadi melahirkan karya-karya dengan mengadopsi karya orang lain, kemudian diadaptasi dalam gaya kita, tentu sah-sah saja bukan? [IyHa]


Tulisan diatas, saya tulis pada lembar pengantar sebuah pameran seni kontemporer di JogJa, beberapa waktu lalu. Kenapa saya tampilkan disini? Ialah sebagai motivasi, khususnya bagi saya pribadi dan syukur-syukur bisa menjadi motivasi bagi Anda yang membaca.


Bahwa sesungguhnya, penciptaan suatu karya seni, tak ubahnya menciptakan sebuah tulisan. Akan selalu ada perputaran, pergeseran atau perpindahan dari masa ke masa, dari jaman ke jaman. Saat ini, tentu saja sudah bukan jamannya Marah Rusli, Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono, tapi tulisan-tulisan bernafas sama dengan para Masterpiece itu masih terus saja dapat kita temui disekitar kita kan? itulah kenyataan sebuah jaman yang dikatakan kontemporer. Tidak meninggalkan pakem, tapi nafas kekiniannya tetap kental terasa.


Itulah apa yang saya sebut Adopt – Adapt..!! mengadopsi gaya para sastrawan lama, para masterpiece, dan menselaraskan atau mengadaptasi kedalam gaya bertutur kekinian, gaya modern. Sehingga lahirlah karya baru.. karya yang unik hasil proses yang dinamakan adaptasi .. bukan membuat duplikat, apalagi plagiat..!!


Selamat berkarya.. :)

IyHa..


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?