19:51
Untuk apa aku terpaku dibawah menara penyangga arloji kota? Menghitung putaran detik,ke menit,menit kembali ke detik bergulir lagi melewati menit lalu menjelma menjadi putaran waktu penuh, jam?
Ah,saat ini sepertinya waktu benar-benar jadi musuhku!
Tapi,apakah aku orang bodoh, yang tak pernah puas menyalahkan dan terus mengutuki jingkat-jingkat waktu yang padahal sama sekali tak pernah faham apa salahnya?
Sebentar, aku akan kembali detik ke menit lalu menyetel putaran waktu, 18:50!
Saat itu, pengantar rezekiku diam-diam merapat. Sedan putih berstrip hitam, kacanya mengkerelet, lampunya menyalak, seperti menantangku, “Naik!”, rambut hitam mengkilat, kacamata pekat, wajah terawat bersih khas wanita golongan jetset, aku menuruti saja kata-kata yang meluncur dari bibir merah bergincunya, seksi. “Sudah punya anak mbak?” dia buka obrolan setelah kebisuan kami di hampir 1 putaran jarum jam aku terdampar di jok belakang mobilnya yang empuk. “Ada dua, Non” sahutku agak bimbang, anak? Dia tanya anak. Oh Tuhan, setan apa yang membuaiku, aku bahkan tak menengok lagi kebelakang, sedang apa anak-anakku setelah nona cantik ini menawarkan dua lembar rupiah berwarna merah, menyala!
Ya,rupiah,baunya saja sudah sanggup membuat gairah semua orang menyala.Apalagi aku, Janda? Harus kuakui apa statusku ini, sedang secarik kalimat di lembar bertanda tangan lelaki yang pernah berbagi ranjang denganku, tak pernah ada.
Kata talak? Seingatku, tak pernah mampir ditelingaku. Yang aku tahu, setelah makian pada wanita yang tiba-tiba menggantikan posisiku diranjang kontrakan sore itu, lelaki laknat kabur.
Sendiri, mungkin itulah kata yang tepat menjawab statusku. Oh tidak, lebih tepatnya, sendiri dengan dua anak. Bagaimana mungkin, rupiah merah tak menyalakan nafsu wanita sendiri dengan dua anak yang mau tak mau tetap terus mengikuti putaran waktu,memberi makan yang jadwalnya, satu dua kali sering terlewat, harus memakaikan baju layak, buku-buku untuk pintar, susu, bahkan mainan atau jajanan, yang selain mencipta riang bagi dua anaknya, juga untuk mempertahankan harga diri!
Yah, bahkan harga diri di jaman serba materi ini, seperti hanya bisa dipertahankan dengan lembaran rupiah.
Aku tenggelam dalam lamunanku sendiri saat si nona jetset kembali membuka suara,”Kita kembali ke tempat mbak tadi ya?, makasih lho, udah temani saya muter-muter, saya Cuma butuh teman curhat aja kok mbak.Yah, biarpun dari tadi mbak diem aja, saya udah lega, makasih ya mbak, 1 jam lebih jadi pendengar setia saya, maap ya mbak kelamaan, ini uangnya.”
“Oh, iya gak papa Non, terimakasih” hanya itu yang keluar dari mulutku, selebihnya seakan hatiku yang bicara.
Sepi? Padahal masih sore, mana pedagang yang biasa mangkal? Mereka yang setia menunggu panggung berjalan? Penunggu kendaraan kurang penumpang,sepertiku? Dan, anak-anakku? Mana mereka? Kemana anak-anakku!
“Bersih banget ya?Jam 7an tadi kan ada trantib, pada dibersihin kali”
Suara-suara yang kudengar lalu lalang, setelah kuterpaku disini, dibawah menara penyangga arloji.
“Ikut dibersihkankah?dipindahkankah?terbuangkah?”
Harus kuadukan pada siapa tanyaku? sedang selembar pengenalpun, aku tak punya.
Kemana anakku? bahkan si kecil belum puas menyesap susu.
“Ah, haruskah kusalahkan waktu, yang dentingnya menghempaskanku ke menit 61?!”








18 Comments
tulisannya begitu hidup,.. mantabs.
salam kenal dan follback juga
Revolusi Galau:Gerakan Hibah Sejuta Buku Blogger
makasih mas..
insyaAllah…
aah sudah lah… bukan waktu yang salah, tapi gmana memanfaatkan tiap detik2 yang ada
bentullll..
Menit ke 61 = menit ke 1
hehe,, iya ya pak??
Bagus banget tulisannya, hebat bisa mengembangkan imaginasi segitu jauh. Nice
aduh, aku terbang mbak..
makasih banyak…
moga makin hari makin bisa mensyukuri waktu yang ada
amin…
menyadarkanku akan seringkali menyia-nyiakan waktu
wah blog barunya keren
selamat ya
semoga sekarang gak lagi ya kang…
ini masih blog lama kang. ehhehe
eh baru ngeh ternyata blognya masih yg lama cuma themenya lebih OK
ketauan deh jarang kemari daku
hehheehe,,, iya nih…
trimakasih mb..tulisannya mengingatkanku utk mempergunakan waktu lbh baik… siipp :))

sama-sama mbak Enny..
yuk memanfaatkan waktu..
Saleum,
Aku masih belum bisa nangkap makna yang tersirat dalam cerita itu, hmmm… apa ada yg salah ya dengan kupi yang kuminum tadi pagi sehingga lambat mikirnya.
Ehm,, mau ditambahi lagi kopinya bang??
Mbak Iyha koq sekarang nulisnya kayak Nchie Hanie…abis tanda baca ngga pake spasi hehehe….
duhh kasihan yah anak2 jalanan yg sering ditangkap trantib….
hahhahah,,, udah kuedit mbak, tengkiu,,
habis gimana lagi mbak
iya..
tergugu dipojokan…..mancap aih 61 menit na, tambah lagi atuuuh
hihihihi,,, senengnya kok tergugu lho..
Waaaa, mana sini anak-anaknya, titipin aku aja. Kasihaaaannn…hiks….
hiksssssss… wong gak tau kemana sist..
bingung mau komen apa selain baguus. kena banget ya setting dan kondisi plus perasaan tokohnya.. lanjutkaan Iyha!
hihihi,,, lanjutkan kamana gaphe??? ikutttttt..
Apik tenan Kak,,memang jaman sekarang ini rasanya uang adalah segala, semoga didalam cerita ini ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil, mungkin jam bisa kita beli tapi waktu gak bisa kita beli..sippppp
mosokkk??
betul,,,
Amin, semoga kita bisa mengambil hikmah baik ya kang..
hemmh,,mantep sekali tulisannya,,,saya mengikuti dari awal hingga akhir,,kita bisa petik hikmah dari cerita diatas,,
makasih mbak..
semoga bisa bermanfaat…
waktu hanyalah pengingat kita untuk siap dalam menjalani setiap cerita dalam kehidupan ini. Tak ada yang perlu dipersalahkan atas waktu, karena waktu hanyalah waktu, yang lama tak akan terulang, yang akan datang belum tentu kita bisa melaluiny. do the best for this time, saat waktu masih menjadi teman kita
(*weks, ko malah kepanjangan yak)
Sippppp,,, komenmu melengkapi makkk..
tengkiu
waaaah….kisah yang benar2 membuat jantung berdegup2 membacanya , Mbak Iyha
tragedi kehidupan yg menyedihkan sangat …
semoga sukses dikontes ini ..


salam
hihihi,, jangan berdegup-degup ah bun, nanti jadi deg deg plas,,
iya bun, realita yang banyak dijumpai di Indonesia..
ini bukan kontes bun… hihihi
Kalimat di ujungnya bagus banget, Iyha…gimanaaaa gitu pas ngebacanya…
Ternyata Iyha jago juga nulis dengan gaya seperti ini
gimana hayo mbak?? hihihi
amin…. ah, jadi terbang nih mbak, hehehe
Write a Comment