Sepakatkah dengan ungkapan,
Kemampuan mendengar seseorang lebih besar dari kemampuannya berbicara?
Saya? Tentu saja sepakat.
Bahwa, sebenarnya banyak sekali yang dapat kita dengar namun sedikit saja yang dapat kita sampaikan. Tapi dikenyataan sehari-hari, justru terbalik, kita lebih sering melihat orang yang ramai berbicara dan sedikit sekali yang mau mendengar. Apa jadinya? Bumi menjadi ramai, rusuh, hiruk pikuk.
Tengok saja, pertengkaran, salah faham, tangis kesedihan sampai perpecahan pun, banyak yang bermula dari apa yang kita katakan, apa yang keluar dari indera lisan. Namun, kearifan, kebijakan, kesabaran dan pemaafan, justru timbul dari kepekaan kita mendengar.
Teriakan, rengekan, bentak-bentakan, seakan menjadi hobby sebagian besar orang. Berbicara dianggap lebih berpower daripada mendengar, tapi tahukah Anda bahwa justru dengan mendengarlah, otak kita dapat menyaring informasi lebih banyak daripada saat kita sibuk berbicara. Otak mengolah informasi dari apa yang kita dengar kemudian mengeluarkan output berupa kata-kata yang kita produksi saat kita berbicara.
Kita akan mampu berkonsentrasi lebih, saat kita menajamkan pendengaran kita, tapi kita hampir tak dapat menerima informasi melalui telinga, saat kita hanya banyak berbicara. Kita hanya terfokus pada apa yang kita ucapkan, katakan, dan melupakan informasi yang masuk melalui telinga. Padahal kemampuan mendengar ini, yang sesungguhnya menentukan kecerdasan kita, bukanlah apa yang bisa kita katakan.
Yuk mulai sekarang
Sediakan lebih banyak waktu untuk mendengar,
daripada sibuk memproduksi kata-kata yang kurang bermakna..










15 Comments
siap mendengarkan dan membaca tulisan
Sipp… tak temani mbak..
Setujuuu…
Bukankan Allah menciptakan 2 telinga dan 1 mulut
Berarti harus lebih banyk mendengarkan dari pada berbicara ya..
Aku siap mendengarkan Ami curhat deh..
betulll,,,
ehm,,, curhat apa ya?? jadi maluuuu,, hihihi
ayuk mendengar dan lebih peduli sesama ami:D
Niar siap mendengarkan sekarang
ayukk..
hehhe.. aye dijulukin pendengar setia ame kawan2
lanjutkan Nak..
ada kesenangan tersendiri aje kalo dengerin mereka cerita, kalo mereka minte saran, baru dah aye yang ngomong ^_^
Bagusss,,
bener sekali ya mbak, sebaiknya memang lebih banyak mendengarkan dari pada bicara.. mendengarkan menjadikan kita lebih mengerti dan memahami orang lain..
salam mbaakk.. lama gak main sini.. apa kabar?
yups, setuju,,,
he’eh nih, aku juga lama gak mampir,,
Alhamdulillah sehat Ne..
Sepakat cek sepakatnya Mbak.. Mari menyediakan waktu untuk mendengar, karena ‘mendengar itu emas’
berapa karat Bro?
Setuju mba Iyha
Tapi kadang susah buat jalanin ya mba…
*udah bakat cerewet*…hihihi…
hihihi,,, percaya deh yang berbakat bicara..
Setuju Mbak.. lebih baik menjadi pendengar saja, klo suka lanjut, klo gak suka nyengkreh..
walah… nyengkrehnya itu..
Hihihi…makanya dengerin dulu kata Osar, jangan maen nyerocos aja…
Memang mendengar(kan) lebih sulit dari berbicara.
iya oom,,.
memang benar mendengarkan itu lebih baik , jadi kalo banyak mendengar suka gampang buat mengaplikasikan
betuuulllll…
setuju banget…
toss..
Setuju, Mbak.
Selama ini kalo dua orang aja, saling rebutan bicara jadinya ribut mulu. Andai salah satu ngalah mendengarkan pasti masalahnya lebih mudah untuk diselesaikan.
nah itu baru 2 orang kan??? heheheeh
setuju Ami,
sebagai penulis blog juga mari kita banyak membaca tulisan yang bergizi baru kemudian menulis.. tapi juga jangan baca mulu sampe lupa nulis.. xixi.
hahhaa,,, seringnya lupa komen bun… hadoohhh..
I agree with you,,,,
matur nuwun..
hemmh,,iya setuju,,mendengarkan lebih baik,,biar kita bisa menjadi pribadi yang laebih baik juga,,^_^
Bentulll..
Write a Comment