Dodo

29 Dec 2013

Sore kemarin, saya temani Osar nonton kartun kesukaannya, Spongebob. Di TV milik calon wakil presiden yang katanya bersih peduli tegas itu, kebetulan iklannya sedikit sekali,heheh, ya sepanjang film kartun itu, saya hitung tak lebih dari jari tangan kanan saya saja. Sosis, Sandal sepatu, snack anak, dan produk perlengkapan botol susu, hanya itu.
Karena iklan yang itu-itu saja, dan seringnya muncul, maka mau gak mau saya jadi memperhatikan. Iklan Sosis, Sandal sepatu, ataupun snack anak, sama sekali tak ada yang aneh, kecuali bintang iklan yang terlihat kaku dan kagok sekali, maklum bukan artis profesional seperti produk-produk mahal lainnya. Tapi, yang jadi perhatian saya, adalah iklan perlengkapan botol susu yang jika saya boleh menyebutkan merk nya adalah ‘Dodo’. Kaget! Itu kesan pertama saya saat saya mulai ngeh dengan iklan ini. Memang, produk yan g dijual adalah empeng an dot, atau sahabat mungkin punya istilah sendiri untuk ujung karet pada botol susu anak. Ya, karet itulah dagangan yang ditawarkan. Maksud yang saya baca sih, dodo ini menawarkan empengan yang kenyal, lentur mirip seperti asilnya (maaf) payudara ibu. Tapi.. Ah.. Sangat disayangkan..
Sepanjang iklan itu, saya harus bolak balik geleng kepala tak habis pikir, visualisasi dari maksud yang ditawarkan itu adalah, begini kalau boleh saya gambarkan iklan itu..
“Sore hari, seorang bayi laki-laki, diajak berjalan2 ke taman, oleh ibu/pengasuhnya. Si anak naik troller dorong dan nampak cerita sekali. Perjalanan menuju taman, melewati kompleks perumahan dan nampak didepan salah satu rumah, beberapa wanita (dewasa) berpakaian seksi ketat terutama di bagian dada dan sedang senam bersama, kamera close up bagian (maaf) payudara, dan kembali shoot ke si anak yang nampak sangat girang. Troller lanjut lagi, kali ini ada 2 orang wanita (dewasa) berpakaian ketat dan seksi juga, terutama bagian dada dan kembali kamera close up di bagian itu.. Balik ke wajah si anak yang sangat ceria. Selanjutnya seorang wanita, menghampiri troller (tetap berpakaian ketat di bagian dada) dan membuka tangan lebar-lebar siapp menggendong si anak, tentu saja si anak lompat kegirangan dan iklan ditutup dengan pesan bahwa produk memang seperti aslinya, dan anak-anak pasti suka”
Saya bengong! Oh, cara menggambarkan suatu produk jaman sekarang, memang harus gamblang begitu ya? Pertanyaan bodoh muncul di benak saya. Ah, saya sangat menyayangkan. Sebagai ibu, saya berusaha menjaga betul tontonan yang baik untuk anak saya, salah satunya memilihkan film kartun yang saya tau betul film itu tidak ‘berbahaya’. Tapi, saya jadi gamang, film nya gak papa, tapi selingan iklannya? Oh my god, iklan itu selalu muncul di waktu jeda film dengan durasi yang lumayan panjang dan berulang-ulang. Gambar demi gambar tentu dapat dicerna dengan baik oleh anak-anak, mereka akan mengartikan sendiri-sendiri entah apa itu. Pendampingan kita memang perlu, tapi kalo gambar yang tertayang perempuan-perempuan berbaju seksi dengan (maaf) dada yang bergoyang-goyang dan ditambahi suara narasi yang menjelaskan anak-anak pasti suka hal itu, bagaimana penjelasan kita pada si anak? Ah, mungkin pemikiran saya yang berlebihan.
Tapi, jika boleh saya mengkritik, ada beberapa hal, yang saya rasa iklan ini kurang pantas dan mungkin perlu di kaji penayangannya;

Placement & Timming

Memang, iklan ini menawarkan produk untuk anak, tapi jika masih mempertahankan gambar yang sudah ada, jam penayangannya mungkin perlu diubah. Bukan di primetime untuk film kartun anak apalagi dengan durasi yang berulang-ulang yang memungkinkan anak menghafal.

Target Audience

Harus ditetapkan dengan jelas, siapa target audience produk ini. Karena walaupun ini produk untuk anak-anak, jelas sekali targetnya bukan anak-anak bukan? Ibu/bapak si anak lah yang memang perlu ‘ditawari’ produk ini, tapi justru iklan menayangkan gambar ‘dewasa’ dengan pesan ditujukan kepada anak-anak, membingungkan.

Product rancu

Sepanjang iklan, tidak sedikitpun tergambar tentang produk. Memang, tidak semua iklan harus menayangkan produknya, tapi di iklan ini membiarkan kita menebak-nebak sendiri apa sebenarnya produk yang ditawarkan, justru berbahaya. Mengingat penayangan di waktu dan acara anak-anak, tentu penampilan produk dibutuhkan.

Apapun itu, adanya iklan memanglah untuk menawarkan suatu ‘dagangan’ sesuatu produk ataupun jasa. Tapi saya rasa, tidak akan mengurangi nilai ataupun harga suatu produk/jasa tersebut jika iklan yang ditawarkan lebih santun, memberikan nilai moral yang baik dan tentu saja tidak melupakan sisi edutainmentnya.. Semoga pengiklan atau siapapun yang memproduksi siaran di berbagai media dan kita yang terpapar siaran-siaran media ini, sama-sama menjadi manusia bijak yang cerdas menyikapi segala bentuk informasi yang tersiar.. Bukankah tayangan yang berkualitas, mencerminkan bangsa cerdas?


TAGS Iklan Produk Target Audience Placement Siaran televisi


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post