Kecerdasan tak harus seragam

30 Jun 2014

Tiap kali liat tayangan ‘Junior Masterchef’ di minggu sore, rasanya hati, mata dan lidah saya berpacu. Hehehehe, ya, itu tayangan masak memasak, yang tentu saja selalu menampilkan aneka macam ragam masakan lezat dan disajikan dengan sangat indah diatas piring saji. Gimana lidah saya tidak bergoyang melihat aneka hidangan itu ditampilkan di layar kaca? Mata saya juga serasa tak berkedip karena masakan itu ditampilkan dengan sangat menarik dengan format tayangan kompetisi yang pastinya selalu membuat gregetan.

Ah, junior masterchef tak hanya mempengaruhi lidah dan mata saya, tidak seperti tayangan masak-memasak di kebanyakan yang saya tonton sebelumnya. Tayangan ini menampilkan pemasak (chef) anak-anak, yang tentunya mengajak hati saya ikut bergetar. Wolda, mereka itu briliant!! Tak ada kata lain yang dapat saya ungkapkan dari kekaguman saya kepada kecerdasan mereka, kreatifitas, kemahiran mengatur waktu dan mengolah bahan, sangat layak diapresiasi.

Anak-anak itu cerdas! Ya, dari tayangan ini, saya semakin memahami bahwa cerdas, bukan hanya mereka yang dapat memenangkan medali di olympiade sains, atau mereka yang selalu ranking 1 di sekolah. Tapi keahlian memasak yang mereka miliki ini adalah suatu kecerdasan yang orang lain belum tentu miliki. Mereka yang mahir berbahasa asing juga cerdas, atau yang pandai dan lincah di lapangan olahraga mereka pun cerdas, mereka yang menguasai keahlian robotic, aeromodelling atau seni rakit puzzle juga bisa dibilang cerdas, mereka yang mahir bermusik, menyanyi dan berani tampil, juga cerdas.

Disini saya menyimpulkan, bahwa yang dapat dikatakan suatu kecerdasan apabila anak-anak kita;

- Berkemauan, dan berusaha mewujudkan

Setiap anak, pasti punya keinginan, pasti punya kemauan akan sesuatu. Yuk coba lihat lagi, bagaimana mereka berusaha mewujudkannya? Apakah memiliki motivasi, menyampaikan ide nya dan meminta bantuan kita, atau memiliki cara yang justru tidak kita sangka namun mereka mencobanya. Apapun itu, asal cara mewujudkannya baik, memiliki motivasi tinggi untuk meraihnya, dengan atau tanpa bantuan, anak kita berada pada tahap berfikir cerdas, layak menjadi salah satu anak cerdas.

- Tertarik akan suatu hal dan dapat menekuni

Salah satu alasan untuk melakukan suatu hal adalah ketertarikan. Lihat apakah anak kita ada tindakan setelah tertarik? Hanya membiarkan saja ketertarikannya, menunggu orang tua atau orang lain memenuhi hal-hal yang menarik itu, atau dia yang berusaha terus menerus menekuni apa yang menarik perhatiannya? Kalau anak kita bersikap terus menekuni sesuatu yang menarik (sebut Hobby) nya dengan sungguh-sungguh, dan senantiasa mau mengembangkan, men’cipta’ menjadi sesuatu yang lebih baru dan menarik walaupun dengan cara yang sederhana, maka anak kita bisa dikatakan mau berbuat cerdas. Ya, mereka anak cerdas.

- Memiliki target dan serius mencapai

Aku pengen jadi pemain bola, aku pengen jadi pemusik, aku pengen jadi ahli komputer. Jangan dulu takut dengan keinginan anak-anak seperti diatas, klo mereka sudah menetapkan keinginan, mereka memiliki target yang ingin dicapai, berarti mereka sudah mengerti tujuan dalam belajar. Mereka yang memiliki target, dan serius dalam mencapai target itu, bersungguh-sungguh mewujudkan apa yang mereka tetapkan, berarti mereka memiliki pandangan yang cerdas.

Anak-anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Tak perlu cemas atau takut akan kemampuan, hobby atau kegemaran anak yang kurang “seragam” dengan anak-anak lain. Tugas kita orangtua adalah mengarahkan, memberi support dan bantu untuk lebih tertata, jaga keserius mereka dalam keinginan yang baik dan tetap setia pada apa yang ingin mereka capai.

Ya, masing-masing mereka memiliki potensi, imajinasi dan daya kreasi yang tentunya berbeda, bantu mereka memanfaatkan apa yang mereka punya dan terus dekatkan anak-anak kita pada Tuhan. Lewat doa-doa dan kerasnya usaha, maka kunci kemudahan dunia akan terbuka.


TAGS cerdas pandai cerdik anak orang tua kecerdasan imajinasi kreasi potensi dunia anak


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post