Bukan Mental Bantal

13 Dec 2014

Setelah subuh dan mengaji pagi ini, jari-jari saya disibukkan dengan keypad HP pintar :) yah, jam 7.00 dimana saya biasa memulai aktifitas, memang masih lumayan lama.

Klak klik sana-sini, saya menemukan sebuah tulisan bagus dan penting dari Ahmad Baedowi ( Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta) siapa beliau? Selain jabatan yang seperti dituliskan diatas, selebihnya saya kurang memahami siapakah Ahmad Baedowi. Tapi tulisannya, membuat saya kembali berfikir. Mengapa sebagian anak sukses, dan selebihnya tidak?

Pertanyaan yang merupakan judul tulisan beliau, seperti mengusik rasa ingint tahu setiap kita yang membacanya. Seolah beliau bertanya pada kita semua, kenapa ada anak yang sukses, kenapa banyak yang justru tidak sukses. Jawaban singkat yang tentu sangat mudah dan seringkali tanpa perdebatan lagi, tentunya ‘Ya, karena memang takdirnya begitu!’

Ternyata, dalam tulisan beliau, takdir bukanlah aktor utama mengapa ada anak yang sukses dan ada yang tidak. Sukses, tentu saja beragam variasinya, ada sukses yang diukur dari berlimpahnya harta, ada sukses yang dinilai dari seberapa berpengaruhnya seseorang, ada sukses yang dilihat dari seberapa tinggi jabatan dan atau seberapa faham dan mahirnya seseorang tentang bidang yang digeluti pun juga bisa dikatakan sukses.

Namun, dari bermacam variasi kesuksesan seseorang, jalan yang dapat menghantarkan kita pada tangga kesuksesan itu, tentunya dapat dirumuskan. Kecerdasan kognitif seseorang dan banyaknya pengetahuan, tentu saja mempengaruhi kesuksesan seseorang di masa depan. Namun, seringkali kita lalai, hanya mengasah kemampuan berfikir, tanpa mempersiapkan mental si anak. Menumbuhkan mental berdaya saing dan pantang menyerah, perlu ditempa, karena kekuatan seseorang terletak pada seberapa mampu dia menguasai dan meyakini kemampuan dirinya sendiri. Untuk itu dalam paradigma berfikir saya, perlunya menumbuhkan kemauan anak untuk berusaha dan menggali potensi diri adalah kunci untuk menapaki tangga kesuksesan.

Dalam menempa mental anak ada beberapa element non-kognitif yang penting namun seringkali terabaikan;

-Kegigihan (Persistence)
Era persaingan yang semakin tinggi seperti sekarang ini, tentu saja ‘kekuatan’ anak menjadi ujung tombak keberhasilannya, kuat dalam arti kata tidak mudah menyerah, mau mengerahkan segala kemampuannya untuk sesuatu yang sedang diusahakan, bersikap sportif dan tidak mengandalkan orang lain. Mau belajar lebih, tidak mudah berputus asa, dan mampu mengoptimalkan kemampuan diri adalah kegigihan yang perlu disiapkan untuk anak.

-Pengendalian Diri (Self Control)
Mengendalikan diri, tentu saja tidak sebatas pada kesiapan dan kemampuan anak menjaga dirinya dari pengaruh luar/lingkungan pergaulan. Namun, pengendalian diri juga ada pada meredam sikap tinggi hati, sikap arogan, tidak percaya pada diri sendiri, minder dan atau justru menutup diri dari dunia luar. Mengendalikan diri adalah menjaga emosi baik tetap berkembang dalam pertumbuhan berfikir si Anak.

-Rasa ingin tahu (Curiosity)
Cerewet dan bertanya ini itu, memang membuat kita pusing dan mungkin kurang nyaman. Tapi, sikap anak seperti ini justru bagus, karena mereka sedang mengeksplor kemampuan mereka dengan cara bertanya dan mencari jawaban yang (berbeda-beda) dari setiap ‘narasumber’ nya. Jawaban yang banyak ragam ini akan menstimulasi otaknya untuk terus mencari, untuk menjadi terus ingin tahu, untuk mau berfikir lebih keras memecahkan permasalahan. Kita hanya perlu memberikan mereka stimulus melalui jawaban-jawaban baik, dan biarkan fikiran mereka yang mengembangkannya. Rasa ingin tahu menjadikan si anak tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah, ia akan terus mencari sesuatu yang baru, dengan berbagai cara kreatif untuk mencari pemecahan permasalahannya.

-Kepekaan terhadap sesama dan lingkungan (Conscientiousness)

Hal ini sudah mulai terkikis di era modern ini. Sikap apatis, bodo amat, lo lo gue gue seperti sudah dimafumkan di lingkungan pergaulan orang masa kini. Alasan tidak ingin mencampuri urusan orang lain, hak asasi jadi tidak peduli, menjadi sudah biasa. Dalam menumbuhkan mental baik pada anak-anak, justru sikap tenggang rasa, peduli sesama, empati, bersedia membantu, adalah ilmu pertama yang perlu diajarkan. Karena sikap peka, peduli dan empati pada sesama dan lingkungan akan membantu anak-anak kita mengenal diri dan lingkungannya dengan lebih mudah. Atmosfer pergaulan yang sehat dan baik menjadikan mental anak bertumbuh baik dan kuat sehingga dapat lebih mudah mengeksplorasi kemampuan dirinya , lebih kreatif, dapat bekerjasama, mampu berkomnikasi baik, memudahkan anak-anak membuka link pertemanan yang lebih luas yang tentunya membantunya mempersiapkan kehidupan yang lebih baik dimasa depan.

Untuk anak-anak Anda yang bersiap menuju kesuksesan

Kemahiran berfikir memang perlu diarahkan dengan maksimal,

tapi kecerdasan mental juga harus ditumbuhkan secara optimal

“Persiapkan mental anak-anak Anda, agar gigih, kuat, siap bertarung. jangan mau jadi mental bantal, nyaman, empuk tetapi seringkali melenakan… “

_Iyha_

-

Author

Follow Me

Search

Recent Post