• 22

    Jul

    Keramas

    Hari ini istimewa, Setelah entah kapan terakhir cairan pencuci memanjakan rambutnya,inilah yang pertama.Malas tentu bukan alasan wanita ayu yang selain karena cekungnya mata,tak ada yang menyangka 63 tahun usianya. Mungkin sulit,merapikan riak-riaknya yang selalu saja tak habis disisir.Ya,hari ini aku merawat rambutnya,mendandaninya menjadi cantik.Sayangnya,ritual keramas ini juga menjadi yang terakhir, setelah rontokan rambut yang cantik dan wangi ini,terbungkus rapi dalam kafannya sore nanti.
  • 9

    Jun

    Siti Badriah

    Kapten Bhirawa gamang, dipandanginya sketsa yang baru saja ia selesaikan. Apa benar? Ah, mungkin hanya halusinasiku saja yang begitu mencintainya, sehingga gambar sosok wanita manapun, seolah menggambarkan ayu wajahnya. Siti Badriah, nama wanita itu, Kapten Bhirawa mengenalnya diatas kereta yang membawanya dari Bandung ke Surabaya. Ya, sejak kenaikan pangkatnya, kapten flamboyant ini dipindah tugas ke Surabaya. Unit Reserse, begitu papan yang terpasang jelas diatas pintu yang dua detik lalu diketuknya. Setumpuk berkas disiapkannya di genggaman tangan kanan. “Jadi, sudah mantap bulan depan?” “Siap, sudah Ndan!” tegas sang kapten, “Mudah-mudahan ini yang tebaik ya, selamat” pesan komandannya sembari mengembalikan berkas pengajuan menikah yang baru saja
  • 12

    Feb

    Mahadipta

    Tak bisa dipungkiri, walaupun tak terang-terangan, aku ikut menikmati manisnya hasil itu. Ah.. setumpukan kemewahan yang harusnya sudah bisa kuterka dari awal, bukan dari jalan benar. Tapi aku nekat, silau harta? Tak bisa dijawab tidak, walaupun kenyataannya rasa titipan Dewi Amor lah yang lebih dominan dalam kasusku ini. Ya, aku benar-benar jatuh hati padanya. Aku tau, sedikit saja yang ada di belakangku, mengamini tindakanku ini benar. Sebagian besar mereka yang kukenal bahkan yang belum pernah mengenalku pun, akan mencibirku, menyalahkan keputusanku mau menjadi wanita nya. Nasi sudah menjadi bubur, rasa-rasanya hanya menjadi peribahasa pembenaran saja atas keputusanku. Nyatanya, sebelum nasi itu menjadi bubur, harusnya aku sudah sadar, sudah harus ambil sikap, ambil keputusan agar tak
  • 23

    Feb

    Menit 61

    19:51 Untuk apa aku terpaku dibawah menara penyangga arloji kota? Menghitung putaran detik,ke menit,menit kembali ke detik bergulir lagi melewati menit lalu menjelma menjadi putaran waktu penuh, jam? Ah,saat ini sepertinya waktu benar-benar jadi musuhku! Tapi,apakah aku orang bodoh, yang tak pernah puas menyalahkan dan terus mengutuki jingkat-jingkat waktu yang padahal sama sekali tak pernah faham apa salahnya? Sebentar, aku akan kembali detik ke menit lalu menyetel putaran waktu, 18:50! Saat itu, pengantar rezekiku diam-diam merapat. Sedan putih berstrip hitam, kacanya mengkerelet, lampunya menyalak, seperti menantangku, Naik!, rambut hitam mengkilat, kacamata pekat, wajah terawat bersih khas wanita golongan jetset, aku menuruti saja kata-kata yang meluncur dari bibir merah bergi
  • 3

    Feb

    Gaji dari Hongkong!

    Memahamimu memang melelahkan. Satu kali kau minta baju biru laut itu tak kusut, sementara kedua tanganku yang harusnya membantu menghaluskan setelan bernilai tiga kali gaji ditambah lembur pegawai pabrik itu, malah ramai dengan tumpukan sepatu-sepatu yang mereknya saja susah sekali dibaca, dari Paris! Katamu Mengerti polah tingkahmu sungguh menjengkelkan. Baru saja kerongkonganku dimanjakan seteguk air yang kuambil dari pompa belakang, karena tak mungkin berani kusentuh mesin air pencetmu yang bisa panas dingin sesuai yang kau mau, atau mengambil setetes saja dari lemari pendingin yang pintunya saja seperti sulit kujangkau itu, kembali lengkinganmu membuatku pontang panting untuk membukakan pintu berengsel lebih besar dari lenganku, produksi Italy! Katamu Menuruti kata-katamu, seringk
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post