Pekerjaan paling mulia

Saya seperti menghilang beberapa pekan belakangan ini. Bukan sok sibuk dengan pekerjaan atau menghindari hiruk pikuk dumay yang lajunya semakin susah saja saya imbangi. Tapi satu kewajiban yang sama sekali tidak bisa saya wakilkan, telah memanggil. Apalagi kegiatan yang lebih penting daripada mengurusi anak bagi seorang ibu macam saya? Maka tugas itu dengan riang saya emban.

3 pekan kebelakang, Osar sakit. Badannya kadang panas kadang dingin. Tak mau gegabah, saya cepat bawa ke dokter.Bukan sakit yang serius, Alhamdulillah. Tapi, bebarengan obat diminum, osar juga mulai manjanya, praktis 7 hari seminggu itu dia tak mau lepas dari gendongan, dan nangis sepanjang waktu. Saya lelah, hampir hilang akal, maunya bagaimana anakku ini.

Terus saja menangis dan tak mau pindah tangan penggendong, bikin kita bingung, dan memutuskan untuk dibawa pulang kampung saja sementara waktu. Mungkin suasana baru di Tegal akan bikin Osar senang, suasana hangat keluarga dan udara yang masih segar insyaAllah bikin keceriaan Osar balik lagi, begitu pikir kita.

2 minggu penuh itu kita manfaatkan untuk refreshing, santai dan tidak terbeban pekerjaan. Osar, juga mulai keliatan mau senyum lagi dan gak melulu gendong. Mas Nakho yang memang sudah beberapa bulan kemaren memutuskan untuk usaha sendiri tak bingung dengan pekerjaan kantornya, karena memang sudah teken surat mundur. Sementara saya yang masih pekerja ini, tak punya pilihan lain demi melihat anak saya yang begitu membutuhkan saya, saya memilih mundur saja. Sebelum berangkat saya memang telah menghadap untuk ijin tidak bekerja lagi. Terpaksa mundur? Ah rasanya tidak. Anak saya lebih membutuhkan saya daripada perusahaan. Perusahaan akan mudah mendapat pengganti saya, sementara gak akan ada yang bisa menggantikan posisi saya untuk Osar, tentu saja.

Dan keputusan ini, InsyaAllah jalan dari Allah yang terbaik yang harus saya pilih dan syukuri. Resiko? Tentu saja selalu ada, mengikuti apapun pilihan hidup kita, tapi dibalik itu, manfaat tentu saja akan lebih banyak jika kita jalani dengan ikhlas dan niatan Lillahi taalla, semua untuk anak dan karena Allah, insyaAllah berkah dan dipermudah.

Maka, saat ini saya sudah mulai dirumah,menduduki tempat baru, sebagai pengangguran yang punya pekerjaan. Pekerjaan saya, insyaAllah menyenangkan dan tak kalah bergengsi dengan para wanita karier. Jika ikhlas dan disyukuri, insyaAllah rezekinya juga tak akan berkurang dari Allah SWT. Tertarik ingin gabung dengan saya? Menduduki posisi yang paling membanggakan bagi wanita, ya, pekerjaan ini akan saya tekuni benar-benar. Pekerjaan saya yang sungguh mulia, IBU RUMAH TANGGA.

Subhanallah, Allahu akbar semoga saya mampu :)

Sedikit catatan : Sebelum saya kembali ke ibukota, mami saya memuati tas dengan banyak sekali makanan, oleh-oleh untuk camilan disana, katanya. Sampai rumah, tas sarat beban itupun saya buka. Subhanallah.. berbagai makanan kegemaran saya berjejal disana, ah.. mami masih ingat betul apa yang menjadi kesenangan saya, begitulah ibu selalu mengingat apa yang anaknya suka, walaupun seringkali kita anaknya melalaikan apa yang menjadi kegemarannya

Semoga kita semua dimudahkan untuk menjadi anak yang sholeh/sholehah yang dapat selalu memenuhi hati orang tua kita dengan lafadz Hamdallah :)

Menit 61

271042_100255463404075_100002588640608_652_2468735_n 19:51

Untuk apa aku terpaku dibawah menara penyangga arloji kota? Menghitung putaran detik,ke menit,menit kembali ke detik bergulir lagi melewati menit lalu menjelma menjadi putaran waktu penuh, jam?

Ah,saat ini sepertinya waktu benar-benar jadi musuhku!

Tapi,apakah aku orang bodoh, yang tak pernah puas menyalahkan dan terus mengutuki jingkat-jingkat waktu yang padahal sama sekali tak pernah faham apa salahnya?

Sebentar, aku akan kembali detik ke menit lalu menyetel putaran waktu, 18:50!

Saat itu, pengantar rezekiku diam-diam merapat. Sedan putih berstrip hitam, kacanya mengkerelet, lampunya menyalak, seperti menantangku, Naik!, rambut hitam mengkilat, kacamata pekat, wajah terawat bersih khas wanita golongan jetset, aku menuruti saja kata-kata yang meluncur dari bibir merah bergincunya, seksi. Sudah punya anak mbak? dia buka obrolan setelah kebisuan kami di hampir 1 putaran jarum jam aku terdampar di jok belakang mobilnya yang empuk. Ada dua, Non sahutku agak bimbang, anak? Dia tanya anak. Oh Tuhan, setan apa yang membuaiku, aku bahkan tak menengok lagi kebelakang, sedang apa anak-anakku setelah nona cantik ini menawarkan dua lembar rupiah berwarna merah, menyala!

Ya,rupiah,baunya saja sudah sanggup membuat gairah semua orang menyala.Apalagi aku, Janda? Harus kuakui apa statusku ini, sedang secarik kalimat di lembar bertanda tangan lelaki yang pernah berbagi ranjang denganku, tak pernah ada.

Kata talak? Seingatku, tak pernah mampir ditelingaku. Yang aku tahu, setelah makian pada wanita yang tiba-tiba menggantikan posisiku diranjang kontrakan sore itu, lelaki laknat kabur.

Sendiri, mungkin itulah kata yang tepat menjawab statusku. Oh tidak, lebih tepatnya, sendiri dengan dua anak. Bagaimana mungkin, rupiah merah tak menyalakan nafsu wanita sendiri dengan dua anak yang mau tak mau tetap terus mengikuti putaran waktu,memberi makan yang jadwalnya, satu dua kali sering terlewat, harus memakaikan baju layak, buku-buku untuk pintar, susu, bahkan mainan atau jajanan, yang selain mencipta riang bagi dua anaknya, juga untuk mempertahankan harga diri!

Yah, bahkan harga diri di jaman serba materi ini, seperti hanya bisa dipertahankan dengan lembaran rupiah.

Aku tenggelam dalam lamunanku sendiri saat si nona jetset kembali membuka suara,Kita kembali ke tempat mbak tadi ya?, makasih lho, udah temani saya muter-muter, saya Cuma butuh teman curhat aja kok mbak.Yah, biarpun dari tadi mbak diem aja, saya udah lega, makasih ya mbak, 1 jam lebih jadi pendengar setia saya, maap ya mbak kelamaan, ini uangnya.

Oh, iya gak papa Non, terimakasih hanya itu yang keluar dari mulutku, selebihnya seakan hatiku yang bicara.

Sepi? Padahal masih sore, mana pedagang yang biasa mangkal? Mereka yang setia menunggu panggung berjalan? Penunggu kendaraan kurang penumpang,sepertiku? Dan, anak-anakku? Mana mereka? Kemana anak-anakku!

Bersih banget ya?Jam 7an tadi kan ada trantib, pada dibersihin kali

Suara-suara yang kudengar lalu lalang, setelah kuterpaku disini, dibawah menara penyangga arloji.

Ikut dibersihkankah?dipindahkankah?terbuangkah?

Harus kuadukan pada siapa tanyaku? sedang selembar pengenalpun, aku tak punya.

Kemana anakku? bahkan si kecil belum puas menyesap susu.

Ah, haruskah kusalahkan waktu, yang dentingnya menghempaskanku ke menit 61?!

iyha-29

Hari Kita Sama, Bu!

hari-kita-sama

Saat Dia di Rahimku

Terimakasih ya Rabb

Untuk hela nafas dan degup jantung

yang mulai berimpit dengan nyawaku

Untuk aliran darah dan sucinya ruh

Yang kau tiupkan sampai ke dinding rahimku..

InsyaAllah,

ku kan selalu menjaganya tetap di jalanMu

Mampukan aku


(NN, Iyha)


Puisi diatas saya tulis malam-malam, mungkin lebih tepat dibilang tengah malam sekitar jam 2.00 dini hari, seketika setelah saya membaca dua strip tanda merah di testpack yang dibeli mas Nakho sore harinya. Perasaan saya? jangan ditanya.. pastinya sangat bahagia, tapi ada juga rasa khawatir, maklum ini kehamilan pertama saya. Khawatir saya belum siap, khawatir saya belum mampu, dan beragam kekhawatiran lain sempat muncul.

ayuk ah lanjuttt

Membaca tipe anak dari permainan

Berbicara jenis permainan anak, saya rasa tidak akan pernah ada habisnya. Semakin hari semakin berkembang saja jenis permainan anak-anak, yang dulunya hanya mengenal permainan tradisional yang minim alat (lebih banyak membuat alat permainan sendiri dari alam) sampai banyak diproduksi jenis-jenis permainan anak pabrikan dan semakin berkembang lagi, dengan penambahan teknologi pada alat permainan, seperti yang banyak kita temui sekarang ini. Namun, dari yang berbahan alam, hasil pabrikan atau yang ditambahi teknologi, dapat diambil benang merahnya bahwa bentuk dasar alat permainannya sama saja. Kemudian saya mencoba mengamati bagaimana anak-anak biasa bermain. Dari pengamatan saya tersebut, saya mencoba untuk membaca karakter/tipe anak dari cara bermain mereka. Seperti dibawah ini;

1. Aktif (kreatif)


Ciri umum: Banyak gerak, berani, banyak tanya dan suka bereksperimen.


Sikap bermain : Umumnya, anak-anak aktif ini, lebih banyak bermain tanpa alat, missal berlarian kesana-kemari, memanjat-manjat,dll. Tapi, jika mereka bermain dengan alat permainan, misalnya saja mobil-mobilan, maka dia lebih senang membongkar body mobil-mobilannya daripada memainkannya, menambahkan lipstick dengan spidol pada permainan boneka, atau mencoba mengganti kaki atau tangan robot yang satu dengan yang lain, dll. Daya imajinasi anak-anak ini amat tinggi, sehingga mereka lebih senang untuk menambahkan, memodifikasi atau menggabungkan alat-alat permainan mereka, daripada memainkannya saja. Bahkan terkadang tercipta permainan baru dari tangan kreatif mereka.


Anjuran : Biarkan mereka berkreasi, selama itu tidak membahayakan. Berikan permainan yang merangsang daya kreatifnya, seperti puzzle, balok susun, dll.


2. Sederhana (tidak neko-neko)

Ciri umum: Kebalikan dengan mereka yang aktif, anak-anak ini lebih

kalem dan pendiam, mereka bermain dengan konvensional, tidak

neko-neko.


Sikap bermain : Sikapnya yang kalem dan konvensional, terlihat dari cara bermainnya yang lurus-lurus saja. Anak-anak dengan karakter ini, dipastikan memiliki alat permainan yang tersusun rapid an bahkan masih terlihat baru. Mereka bermain dengan sebagaimana semestinya permainan itu dimainkan. Misalnya bermain mobil-mobilan, tidak sampai mencopot stiker hiasan (bila ada stikernya) yang menempel dimobil-mobilan, bila mobilannya habis batere, mereka hanya menggantinya saja, tanpa mengoprek tempat batere seperti apa. Atau mereka hanya mengganti baju Barbie, tanpa mencoba mencoret-coret wajah barbienya dengan crayon.


Anjuran : Arahkan mereka untuk dapat lebih kreatif, dampingi saat bermain dan berikan permainan yang lebih banyak menggunakan daya imajinasi.


3. Pandai bergaul


Ciri umum: mudah berekspresi, senang berkelompok, ceria,


Sikap bermain : Sebagian besar anak memang memiliki sifat dasar yang ceria, namun bagi mereka yang pandai bergaul, akan terlihat dari gaya mereka bermain. Mereka lebih suka bermain dengan berkelompok (dengan banyak teman) yang melibatkan banyak interaksi antar pemainnya. Jika mereka bermain dengan alat permainan, mereka lebih memilih seperti boneka tangan, lompat tali, balap mobil-mobilan, yang dapat dinikmati bersama.


Anjuran : Bermain dengan banyak teman memang bagus, namun permainan kelompok memungkinkan adanya keributan kecil antar mereka, untuk itu perlu pengawasan dan arahan atau sesekali libatkan diri untuk bermain.


4. Pemarah (mudah ngambek)


Ciri umum: cenderung egois dan semaunya sendiri, gampang kesal, sering menangis

Sikap bermain : Anak tipe ini, terlihat dari cara bermainnya yang ngotot bisa dibilang cenderung arogan. Bila sedang bermain sendiri, dan merasa permainannya kurang memenuhi keinginannya, mereka bisa saja merusak mainan. Bermain bersama temanpun, akan lebih sering ngotot, bahkan tak jarang bermain curang agar bisa memenangkan permainan.


Anjuran : Ajarkan untuk lebih peka, pilih permainan yang sesuai dengan keinginan dan hobynya. Untuk tahap awal, turuti dulu apa kemauannya, kemudian pelan-pelan arahkan agar dapat mulai bersosialisasi dengan teman dalam permainan. Bila kebetulan bermain game seperti PS atau game online, pilihkan game yang merangsang ekspresi dan cenderung lucu.

Saya tidak memiliki basic psikologi dan juga tidak bergerak aktif dalam dunia anak-anak, karakter-karakter diatas, hanyalah pengamatan saya secara pribadi pada keponakan, anak-anak tetangga dan lingkungan saja. Bila ada yang kurang berkenan dan kurang setuju, mohon maaf dan semoga berkenan mengarahkan

Semoga catatan saya ini, bermanfaat bagi Anda dan syukur bila dapat membantu perkembangan putra/putri tercinta.. :)

Mari cintai anak-anak :)

iyha-212

Tulisan ini, diikutsertakan dalam Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak

mainan-bocah-contest-banner