Mei 2010 lalu, jadi bulan paling berbunga dan berjibun kado pernikahan bagi saya dan Mas Nakho. Kalo dibilang bulan madu, maka kami berdua sepakat memilih bulan Mei itu full sebagai bulan yang bermandikan madu bagi kami, manis sekali.
Semua penganten baru juga gitu Yhaaaaaaaaaaaaaaa!!
Ups, tunggu dulu.. emang sih semua rata-rata begitu, tapi kan sebabnya macem-macem. Kalo saya sama mas Nakho, sebabnya apa coba? Gak tau kan?? Makanya jangan protes dulu.. sini tak ceritain..
Malam itu..
Tsah..
Saatnya kita bedua mulai masuk kamar penganten (Stop Yha banyak anak-anak yang pada baca!)
Heleh, ini cuma cerita lokasi aja lho, gak mau ngomong yang aneh-aneh. Udah, duduk aja, dengerin..!!
Nah, malem itu kita punya acara khusus, yaitu buka kado pernikahan, heheh. Emang, kalo nikahan dikampung, masih banyak yang kasih kado, biarpun di undangan udah ditulis Dengan tidak mengurangi rasa hormat, mohon cinderamata bagi mempelai tidak dalam bentuk kado atau karangan bunga. Tetep aja kado pernikahan yang ditaruh di meja penerima tamu itu numpuk.
Isinya?
Macem-macem, ada peralatan rumah tangga kayak kompor, blender, magic jar dsb, ada juga perlengkapan pribadi manten dan masih banyak rupa-rupa yang lainnya. Tapi, jujur, biarpun barang itu cukup berguna, semua itu kurang berkesan bagi saya, hingga acara buka-buka kado pernikahan itu ditutup dengan kesan biasa aja, sampai
Mas Nakho menyerahkan sesuatu yang dibungkus rapi dengan kertas warna merah maroon, cantik sangat. Apa ini mas? kaget saya menerima kotak merah itu. Buka aja, itu kado pernikahan yang mas udah siapin, bahkan sejak kita mulai pacaran dulu,mudah-mudahan Mei suka. Jawabnya bikin penasaran.
Daripada penasaran, langsung aja saya buka..
Isinya, bikin kaget plus bingung. BUKU..!! (Bagus dong, buku apa? Siapa yang nulis?)
Ini bukan buku cetak, ini buku tulis, buku folio, yang sampul depannya batik-batik dan udah lusuh pulak..!! Penasaran, dalem hati ngomong, lhoh kok kado pernikahan buku sih mas? Emangnya juara kelas? Atau jangan-jangan ini catatan utang? OH TIDAKK..!!
Buka aja dulu, nanti juga Mei ngerti maksudnya.. kata mas Nakho yang langsung mecahin lamunan saya. Gak nunggu waktu, langsung saya buka lembar demi lembar buku itu, pertama senyum-senyum, terus tampang serius, lama-lama nangis..
Karena ternyata, isi buku itu adalah tulisan tangan mas Nakho dari pertama kali kita deket, disitu ditulis dengan jelas tanggal bulan tahun dan bahkan jamnya. Tiap lembar, isinya perjalanan cinta kita, tiap lembar isinya catatan perjuangan cinta kita, tiap lembar seperti mengajak saya kembali kemasa itu. Yah, mas Nakho menulisnya sejak 7 tahun lalu, setiap moment dia tulis disana, suka, duka, senang, meriang, semua ditulis lengkap, dan selalu diakhirnya dituliskan sebuah doa, ini salah satunya..
Ya Allah, Jagalah dia, bahagiakanlah dia, berkahilah jalannya selalu. Bila aku bukan jodoh terbaiknya, maka dekatkanlah dia dengan seseorang yang selalu dapat membuatnya tersenyum
Subhanallah
Dan malam itu, saya tidur dengan nyaman dipeluknya, menggenggam kado pernikahan terindah dari seseorang yang Allah SWT ijinkan untuk menemani hari-hari indah saya kedepan, dan InsyaAllah selamanya
Makasih mas.. sayangmu padaku adalah keajaiban yang indah..
IyHa..
Artikel ini saya tulis sebagai Wedding Anniversary Gift bagi para sahabat yang mensyukuri hari ulang tahun pernikahannya pada bulan Juli 2011

coment penuh senyuman