Ada - berkarya - lalu mati meninggalkan manfaat.

Mungkin itu cita-cita semua orang, tak terkecuali saya. Ya, saya pengen ada di dunia ini, berkarya sesuai kemampuan saya, kemudian saat tidak ada nanti, karya saya masih memberikan manfaat bagi banyak orang. Memang bisanya apa? Kalo bikin-bikin mesin uap, bikin lampu listrik apalagi mobil sampai pesawat, jelas bukan kebisaan saya. Tapi kalo untuk cerita, ngobrol-ngobrol, tuker-tuker informasi, insyaAllah bukan saya saja, tapi Anda semuapun bisa.

Jadi, mulai tahun 2010 lalu, kesadaran saya bahwa menyalurkan kebisaan-kebisaan saya yang mungkin sederhana, bisa jadi karya yang nantinya manfaat, asal dilandasi niat yang tulus untuk berbagi kebaikan mulai menguat. Bukankah berkarya bisa kita lakukan dengan cara, jalan atau melalui bidang apapun?. Maka saya memilih untuk mulai punya blog, atau kerennya menjadi blogger. Bukan ingin ikutan tren teknologi yang ada, tapi memang saya merasa sudah cukup cuma sebagai pengintip lembar cerita orang lain (silent reader blog), akhirnya saya terbitin juga cerita saya yang pertama di blog pribadi. Alhamdulillah, saya mulai membingkai kebisaan saya cerita-cerita, ngobrol-ngobrol itu dalam lembar yang lebih luas dan mendunia, jadi cerita yang sederhana saja, insyaAllah bisa jadi manfaat bagi orang yang mungkin merasa cerita saya jadi pelajaran, perenungan, inspirasi atau sekedar teman tersenyum.

Lalu, apa cukup sampai disitu saja, lantas saya puas? Ini sebenarnya bukan masalah kepuasan, tapi masalah bagaimana kita menjalankan peran. Saya sudah menjatuhkan pilihan pada peran sebagai blogger, maka saya harus tanggung jawab dengan peran saya. Bukan sekedar gemenyar (senang-senang kalo masih baru), tapi bagaimana saya mempertahankan eksistensi saya sebagai blogger. Istilahnya, saya Bukan Blogger Semusim, yang lantas hilang kalau musimnya udah berganti.

Jika kita pergi kepasar, maka kita biasa mendengar lagi musim mangga nih, musim duren, musim rambutan, musim duku, dan lainnya. Tapi ada gak yang bilang musim kelapa? Ya, dalam menjalankan peran sebagai blogger, saya pengen jadi kelapa, yang gak hanya ada di satu musim tertentu, tapi selalu ada sepanjang tahun, selalu jadi manfaat dari daun sampai akarnya.

Karena saya Bukan Blogger Semusim dan emoh dibilang blogger musiman, maka saya memegang filosofi kelapa dalam menjalankan peran saya sebagai blogger.

Filosofi Kelapa untuk blogger

Akar

Akar pohon diibaratkan sebagai niat. Niat kita untuk berbagi tulisan lewat media blog, bukan hanya untuk senang-senang atau narsis-narsisan, tapi lebih dari itu, niat tulus untuk berbagi dan menyebarkan manfaat bagi semua orang.

Buah

Buah kelapa, dapat kita parut dan diambil santannya, maka seperti kelapa, saat santannya kok membosankan karena selalu untuk membuat opor, ya dicampurkan ke beras dan ditambah daun salam untuk dibikin nasi uduk. Jadi saat tulisan saya mulai membosankan karena membahas hal-hal serius, ya besoknya di tampilkan cerita-cerita harian yang ringan yang mungkin bikin tersenyum. Atau sekedar menampilkan foto yang bisa merefresh semangat sahabat sekalian. Buah bisa dibilang inti dari kelapa,begitu juga bagi sebuah blog, buah diibaratkan konten, isi postingan. Maka isi postingan diusahakan untuk tidak membosankan, agar selalu lezat untuk dibaca dan nikmat untuk dicicipi ilmu dan ceritanya

Batang

Agar buah kelapa menjadi gurih, kental dan berdaging tebal, maka haruslah ada batang sebagai penyalur makanan dan penopang buah yang kuat. Begitu pula dengan blog kita, agar isi atau konten blog kita menjadi kaya gizi, nikmat dan lezat. Maka penopangnya pun harus kuat, tangguh dan tentunya berkualitas. Siapakah batang itu? Ialah kita. Manusianya. orang yang memiliki blog alias blogger. Jika ingin tulisan yang kita tampilkan dalam blog menjadi baik, menjadi kaya, dan enak dibaca, kita yang harus memperkaya diri kita dengan ilmu. Kita yang harus mau lincah untuk memperluas informasi, menyegarkan pengetahuan kita agar tulisan yang kita hasilkan menjadi manfaat. Caranya? Baca, tonton, dengar, apa saja yang ada di sekeliling kita, kemudian resapi, saring dan tuangkan.

Daun

Sebuah pohon kelapa, menjadi teduh, rindang dan terlindung karena adanya daun. Daun menjadi penghantar sinar matahari, penangkap angin dan penyaring hujan. Dalam blog, daun itu saya namakan dengan interaksi dan komunikasi. Tidak akan bisa dikatakan blogger yang langgeng, atau bukan blogger semusim, bila kita hanya asik sendiri, tanpa mau berinteraksi dan meluaskan komunikasi kita dengan blogger lain. Untuk itu, kita juga harus melebarkan daun blog kita ke luar, dengan jangkauan yang luas. Agar eksistensi kita tetap ada, kita kenalkan blog kita blogger lain dengan kunjungan silaturahmi (BW) dan saling bertukar komen, kita komunikasikan kemampuan kita dengan mengikuti kontes-kontes menulis, kita lebarkan ranting interaksi lewat forum-forum, lewat jendela chating dan bila ada kesempatan, dengan ketemu langsung (kopi darat).

Dengan filosofi kelapa yang saya paparkan diatas, insyaAllah kita bukan lagi blogger musiman, sebaliknya menjadi blogger langgeng dan bermanfaat dan bangga menyebut diri

BUKAN BLOGGER SEMUSIM

Berbanggalah bisa dan terbiasa menulis,

berbahagialah menjadi blogger

Karena setiap huruf yang kita tuliskan

adalah cakrawala hati dan fikiran

Yang terangkai apik menjadi sumber pengetahuan

Artikel ini diikutsertakan pada

Kontes Tiga Kata Bukan Blogger Semusim di BlogCamp.


731cd74bd91ce6596f6b783a450ce6f8_iyha-22