Menit 61

271042_100255463404075_100002588640608_652_2468735_n 19:51

Untuk apa aku terpaku dibawah menara penyangga arloji kota? Menghitung putaran detik,ke menit,menit kembali ke detik bergulir lagi melewati menit lalu menjelma menjadi putaran waktu penuh, jam?

Ah,saat ini sepertinya waktu benar-benar jadi musuhku!

Tapi,apakah aku orang bodoh, yang tak pernah puas menyalahkan dan terus mengutuki jingkat-jingkat waktu yang padahal sama sekali tak pernah faham apa salahnya?

Sebentar, aku akan kembali detik ke menit lalu menyetel putaran waktu, 18:50!

Saat itu, pengantar rezekiku diam-diam merapat. Sedan putih berstrip hitam, kacanya mengkerelet, lampunya menyalak, seperti menantangku, Naik!, rambut hitam mengkilat, kacamata pekat, wajah terawat bersih khas wanita golongan jetset, aku menuruti saja kata-kata yang meluncur dari bibir merah bergincunya, seksi. Sudah punya anak mbak? dia buka obrolan setelah kebisuan kami di hampir 1 putaran jarum jam aku terdampar di jok belakang mobilnya yang empuk. Ada dua, Non sahutku agak bimbang, anak? Dia tanya anak. Oh Tuhan, setan apa yang membuaiku, aku bahkan tak menengok lagi kebelakang, sedang apa anak-anakku setelah nona cantik ini menawarkan dua lembar rupiah berwarna merah, menyala!

Ya,rupiah,baunya saja sudah sanggup membuat gairah semua orang menyala.Apalagi aku, Janda? Harus kuakui apa statusku ini, sedang secarik kalimat di lembar bertanda tangan lelaki yang pernah berbagi ranjang denganku, tak pernah ada.

Kata talak? Seingatku, tak pernah mampir ditelingaku. Yang aku tahu, setelah makian pada wanita yang tiba-tiba menggantikan posisiku diranjang kontrakan sore itu, lelaki laknat kabur.

Sendiri, mungkin itulah kata yang tepat menjawab statusku. Oh tidak, lebih tepatnya, sendiri dengan dua anak. Bagaimana mungkin, rupiah merah tak menyalakan nafsu wanita sendiri dengan dua anak yang mau tak mau tetap terus mengikuti putaran waktu,memberi makan yang jadwalnya, satu dua kali sering terlewat, harus memakaikan baju layak, buku-buku untuk pintar, susu, bahkan mainan atau jajanan, yang selain mencipta riang bagi dua anaknya, juga untuk mempertahankan harga diri!

Yah, bahkan harga diri di jaman serba materi ini, seperti hanya bisa dipertahankan dengan lembaran rupiah.

Aku tenggelam dalam lamunanku sendiri saat si nona jetset kembali membuka suara,Kita kembali ke tempat mbak tadi ya?, makasih lho, udah temani saya muter-muter, saya Cuma butuh teman curhat aja kok mbak.Yah, biarpun dari tadi mbak diem aja, saya udah lega, makasih ya mbak, 1 jam lebih jadi pendengar setia saya, maap ya mbak kelamaan, ini uangnya.

Oh, iya gak papa Non, terimakasih hanya itu yang keluar dari mulutku, selebihnya seakan hatiku yang bicara.

Sepi? Padahal masih sore, mana pedagang yang biasa mangkal? Mereka yang setia menunggu panggung berjalan? Penunggu kendaraan kurang penumpang,sepertiku? Dan, anak-anakku? Mana mereka? Kemana anak-anakku!

Bersih banget ya?Jam 7an tadi kan ada trantib, pada dibersihin kali

Suara-suara yang kudengar lalu lalang, setelah kuterpaku disini, dibawah menara penyangga arloji.

Ikut dibersihkankah?dipindahkankah?terbuangkah?

Harus kuadukan pada siapa tanyaku? sedang selembar pengenalpun, aku tak punya.

Kemana anakku? bahkan si kecil belum puas menyesap susu.

Ah, haruskah kusalahkan waktu, yang dentingnya menghempaskanku ke menit 61?!

iyha-29

Gaji dari Hongkong!

Memahamimu memang melelahkan. Satu kali kau minta baju biru laut itu tak kusut, sementara kedua tanganku yang harusnya membantu menghaluskan setelan bernilai tiga kali gaji ditambah lembur pegawai pabrik itu, malah ramai dengan tumpukan sepatu-sepatu yang mereknya saja susah sekali dibaca, dari Paris! Katamu

Mengerti polah tingkahmu sungguh menjengkelkan. Baru saja kerongkonganku dimanjakan seteguk air yang kuambil dari pompa belakang, karena tak mungkin berani kusentuh mesin air pencetmu yang bisa panas dingin sesuai yang kau mau, atau mengambil setetes saja dari lemari pendingin yang pintunya saja seperti sulit kujangkau itu, kembali lengkinganmu membuatku pontang panting untuk membukakan pintu berengsel lebih besar dari lenganku, produksi Italy! Katamu

Menuruti kata-katamu, seringkali menyebalkan. Dengan hati-hati, kuitari ruang demi ruang, sudut demi sudut mengusap, mengelap membuat kinclong aneka rupa pajangan indahmu, cawan emas bak hiasan istana raja, keramik megah bagai kediaman kaisar Cina. Baru sempat kudaratkan sesuap sisa sajian tempo hari, sibukmu mengkomandoiku menyesap debu-debu dengan alat berekor, seperti sulap mengagumkan, permadani tebal nan empuk yang terhampar di tiap ruanganmu, sempurna bersihnya, seperti siap menerbangkan ke negeri seribu satu malam, buatan Persia! Katamu

Membiarkan tubuhku tua disini, lalu mati, pastinya sia-sia! Ya, kau punya sepatu-sepatu indah dari Paris, perabot rumah nan megah dari Italy sampai penghias ruangan serba mengagumkan, dari Persia. Sempurna, seperti di surga. Semua yang kau punya, istimewa bak surga di dunia. Semua fasilitasmu kau beli di negeri yang jauh dengan tak sedikit rupiah. Namun, apa hakku harus juga kau jauhkan? Gaji dari Hongkong! Bentakmu saat kutanya sore itu!

Saya berhenti sekarang, Nyah!

Namun setelah kalimat itu, justru kau makin jauhkanku dari semuanya. Jeruji besi ini menemaniku, tanpa kutahu apa sebabnya. Ah, mungkinkah piring keramik Cina yang kemarin kubawa serta?

iyha-21

Besok Berangkat Bareng yuk.. !

Kalimat ajakan yang saya tulis di judul itu, dilontarkan oleh seseorang, kurang lebih 13 tahunan yang lalu.. wow, lama bener tuh kalimat, jangan-jangan kalimat sakti, hihih..

Memang betul, itu adalah kalimat sakti, karena sanggup menerbangkan hati saya sementara waktu. Ciyeeeeeeee,.. bahasanya iyha.. :P

Lho, bagaimana gak terbang, kalo yang ngajak berangkat bareng itu adalah seorang pemuda tampan (pada jamannya), baik hati, rajin menabung lagi tidak sombong yang baru seminggu lalu resmi mengajak saya berteman lebih, hahaha.. iya, kalimat itu, ajakan dari pacar saya waktu SMP *malu-malu..

7222725-illustration-of-girl-and-boy-go-to-school

Jadi, ceritanya waktu itu saya dan dirinya (bukan mas Nakho) baru jadian 1 minggu, nah gak ada anginapalagi sampai hujan petir, eh pas ketemuan, dirinya ngajak saya untuk berangkat sekolah bareng. Perlu diketahui, sekolahan saya jauh dan butuh waktu 45 menit kalo pake bus, pake motor paling lama 30 menit lah. Kalo dia sih udah SMA, dan sekolahannya gak jauh-jauh amat, cuma 15 menit sampe.

Dia bilang gini;

Besok berangkat bareng yuk..
Saya mesem-mesem, pura-pura malu..
Besok aku jemput ke rumahmu ya pake motor.. katanya lagi
Saya ngangguk pasrah padahal mau, sambil bilang Iya deh, eh jam berapa?
Jam 6.30 aja deh ya, biasanya aku berangkat jam segitu
OK, tapi jam setengah tuju udah sampe di depan rumah ya?
saya khawatir terlambat
Iya.. dijawab pake senyum, oh.. senyumnya itu lho
Haiyahhhhh :P

——————————————————-

Besoknya..

Saya tumben bangun pagi-pagi banget, dan langsung rapi-rapi, biasanya kan saya santai-santai dulu, nonton TV, ngemil ini itu, godain adik saya, dll. Tapi hari ini, anak mami ini sudah cantik sekali, baju licin, aroma semerbak mewangi, (iyha memang genit)

Sarapan sudah, beberes kelar.. saya duduk di ruang depan, tengok jam masih jam 6.15. Harusnya saya tenang, karena biarpun berangkat jam 6.30 tapi saya naik motor, jadi gak bakal terlambat. Tapi saya malah deg-deg an gak keruan, galau bin nervous. Saya membayangkan, dibonceng sama pacar, pertama kali. Saya jadi berasa puteri yang diselametin pangeran dengan kuda putih,,, sshhh,,, ngayal.

Tin..tin

Dirinya sampe di depan rumah, saya? Gugup rapi-rapiin baju trus segera kepintu. Setelah kita cium tangan mami, langsung lah berangkat. Saya betul-betul dibonceng sama dirinya, tapi tetap atur jarak, dan deg-deg an itu gak mau hilang. Dijalan, motor belok kearah terminal, saya agak bingung Eh, kita gak lewat sana aja? Kok malah muter kesini? Gak kejauhan?
Mau nemuin abangku dulu ya. Gak papa kan bentar..
Jawabnya.
Ooh..

Dirinya emang punya abang, sekolah SMA juga. Dan ternyata kita, beneran berhenti di terminal, abangnya udah nunggu disana. Tak pikir nih ya.. dirinya bakalan ngomong apa gitu sama abangnya trus buru-buru berangkat, tapi ternyata..

Oh Tidak!!! Dirinya ngasih kunci motor ke abangnya!

Trus bilang..
Ayuk cepetan berangkat, nanti keburu telat.. sambil jalan ke bus yang lagi nunggu penumpang.

Apa??? Jadi jadi kita berangkat bareng itu
berangkatnya bukan naik motor?

Saya masih bengong, setengah tidak percaya.. tapi tetep jalan ngikutin dia sambil diam, sambil sebal, sambil menyimpan tangis, hiks

Hari itu, saya berangkat bareng pacar saya, naik bus..
Dan benar saja, hari itu saya terlambat. Jam 7.20 saya baru sampe depan gerbang sekolah dan gerbang sudah digembok,

SISWA/SISWI TERLAMBAT LEBIH DARI 10 MENIT

DILARANG MASUK !!!


Tulisan di gerbang itu, menyakitkan saya
Hari itu saya bolos.. ssttt( ini rahasia ya.. hahaha)
Hari itu saya sebal berat..

Bukan,, bukan karena batal romantisan diboncengin motor
Bukan karena saya matre, gak mau naik bus
Bukan karena malu harus naik bus padahal berdua pacar..

Tapi.. karena saya harus terlambat masuk sekolah,,
hanya karena GR BERANGKAT BARENG DIBONCENGIN MOTOR SAMA PACAR..!!

Oh, kejamnya cinta monyet :(

—————————————————

Cerita Iyha ini berpartisipasi dalam Saweran Kecebong 3 Warna yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia. Disponsori oleh : “Jeng Anggie,Desa Boneka,Kios108

saweran-kecebong-3-warna1


gambarnya, nyolong dari mbah gugel

iyha-24

Sang Maha Cinta, terimakasih…

Rahasia indah ini, biar kusimpan dalam hati,

menemani hariku, selimuti malamku, menghangatkan jiwaku”

Sang Maha Cinta, terimakasih… hanya selarik kalimat itu yang dapat kueja dalam hatiku, tiap kali kumengingatmu, mas. Ya, betapa beruntungnya diriku, dipertemukan denganmu, disaat muda usiaku, disaat gamang pandangku, disaat bimbang jiwaku, kau yang menuntunku, mematangkan ranumku menjadi mekar bunga nan jelita hanya untuk mewangikan hatimu. Ah cerita romantis yang sungguh ingin kuulang bersamamu, namun sepenggal waktu tak mampu menggamit lagi cinta kita dalam satu lintasan yang sama.

Waktu itu, usiaku baru bergeser 4 tingkat diatas dua puluh, dan kau 3 tahun lebih lama menyeruput nikmatnya nafas yang dengan dermawanNya Dia anugerahkan kepada semua penghuni bumi. Aku terjerat pesonamu! Tak ragu lagi, hatiku membisik kata itu. Kau pemuda yang tangguh, tak pernah satu kata pun mewakilkan bahwa kau menyerah, mengalah, kalah. Aku kagum padamu, memandangmu sebagai teladan semangatku. Tak mau tertinggal oleh lincahnya detik waktu, kubalas pinanganmu dengan anggukan senyum, saat ini juga.

Rupanya, Pemilik Cinta tak mau membiarkan kita menunggu mas, tak sampai tahun berganti, sang tampan, resmi dititipkanNya diistana kecil kita. Sang tampan yang bisa kita panggil Dewa. Dia, percaya kita mampu.. Alhamdulillah, begitu pula orang tua kita mas, mempercayakan kunci istana ini pada kita, bangunan mungil yang kini membungkusku dalam sepi. Sejak keluhan yang semakin lama menyiksa, membuatku rela menandatangani surat perpindahan rawat yang disodorkan dokter untuk mengirimmu kembali ke Yogya, tanah kelahiranmu dengan gejala kanker dan paru-paru yang dipenuhi cairan.

Masih jelas memenuhi ruang benakku, saat dimana Jogja-Jakarta seperti tak berjarak saja, akhir minggu, hariku kuhiasi dengan merawatmu di jogja, tapi hari kerja kembali kusibukkan hariku dengan tumpukan pekerjaan dikantor, juga menemani dan mencatat kepintaran, kelucuan Dewa yang semakin bertambah saja. oh ya, kau belum pernah sempat menghalau bola hasil tendangannya yang semakin terarah dan pasti kau tak menyangka betapa kencangnya, aku bangga mas, dia sepertimu. Pandai, Tampan dan tak kenal menyerah.

Juga saat-saat dimana aku tak tau lagi harus menghubungi siapa, hanya untuk bertanya Maaf, boleh saya pinjam uang dulu? Untuk ongkos nemani suami yang sakit di Jogja, tahukah mas, sekarang masa itu justru paling kurindu, karena setelah beberapa lembar rupiah ada di tangan, berarti esoknya kulewati hari-hari pengabdianku sebagai teman hidupmu, begitu kau menyebutku. Menuntunmu membilas badan, menyuapkan bubur ransum rumah sakit, membelai rambutmu yang mulai dapat kuhitung, memotret senyummu, untuk kubingkai kembali ke Jakarta. Oh senangnya menjadi pelayan untuk ketulusan cintamu, mas. Jika kau tahu,untuk bisa mengelus pipimu yang semakin tirus itu, aku rela mengganjal perut laparku, dengan doa-doa saja, mencintai dengan ikhlas itu menyenangkan ya mas.

Dan, sepekan lalu..

Ya Rabb Pencipta Cinta nan Agung , lakon apa yang sedang Kau jalankan padaku? Belum puas kuteguk manisnya bermahar cinta, saat lembar-lembar cerita belum sempat kutuliskan dengan tinta-tinta emas, saat masa-masa indah itu belum rampung kurangkai dalam memori hatiku. Kau kirimkan malaikatMu untuk menjemput kekasihku. Kau percayakan aku untuk memeluk Dewa, selembut ibu, sehangat ayah, memeluknya seorang diri. Tapi aku selalu percaya, kekasihku orang baik, dan Kau tahu itu. Orang baik, memiliki satu tempat istimewa di sisi-Mu. Kau memanggilnya, menuju ke tempat itu, taman firdaus sesuai janjiMu, kan? Akan kusenandungkan doa, dzikirku tiap waktu padaMu ya Rabb, damaikan ruhnya dengan kasih-Mu, tenangkan langkahnya di jalan lapang-Mu, antarkan kekasihku ke Jannah-Mu.

Terimakasih ya Allah, kau masih menitipkan rahasia ini padaku. Ya, rahasia umur dan cinta, yang sampai detik ini masih berkah untukku, untuk Dewa.. Subhanallah Alhamdulillah aku bersyukur

Beside on true story

(sahabat, yang tak mau disebutkan namanya)


———————————————————————————

Wanita

Cintailah suamimu, sebesar-besar cinta yang kau punya, tanpa melupakan cintamu pada Allah SWT.

Hormati suamimu setinggi-tinggi penghargaan yang kau bisa, tanpa melampaui hormatmu pada Allah SWT.

Rawatlah suamimu sebaik-baik perawatan yang kau mampu, tanpa meninggalkan kebaikanmu merawat ibadah dan keteguhan menghindari larangan Allah SWT.

Karena, wanita yang bersuamikan lelaki sholeh,

murka Allah ada pada murka suamimu, dan ridho Allah ada pada ridhonya.

Maka, jangan sia-siakan anugrah Allah lewat cinta suamimu.

Jemput ridho dan berkah Allah yang ada disampingmu,

sebelum sesal itu menyapamu saat Allah menjemputnya kembali

iyha-22

Saat Dia di Rahimku

Terimakasih ya Rabb

Untuk hela nafas dan degup jantung

yang mulai berimpit dengan nyawaku

Untuk aliran darah dan sucinya ruh

Yang kau tiupkan sampai ke dinding rahimku..

InsyaAllah,

ku kan selalu menjaganya tetap di jalanMu

Mampukan aku


(NN, Iyha)


Puisi diatas saya tulis malam-malam, mungkin lebih tepat dibilang tengah malam sekitar jam 2.00 dini hari, seketika setelah saya membaca dua strip tanda merah di testpack yang dibeli mas Nakho sore harinya. Perasaan saya? jangan ditanya.. pastinya sangat bahagia, tapi ada juga rasa khawatir, maklum ini kehamilan pertama saya. Khawatir saya belum siap, khawatir saya belum mampu, dan beragam kekhawatiran lain sempat muncul.

ayuk ah lanjuttt