Di jaman yang serba moderen ini, memang semua di desain serba mudah dan praktis. Tak terkecuali untuk urusan domestic rumah tangga, pengen nyuci ada mesin, pengen setel tipi ada remote, pengen minum dingin ada kulkas, pengen kawin lagi, ups ntar dulu biarpun semua peralatan tersebut seolah memberikan kesempatan bersantai lebih banyak pada para wanita yang memilih profesi full sebagai ibu rumah tangga, bukan berarti dengan alat ini, sang ratu rumah tangga dapat duduk tenang ongkang-ongkang kaki saja.
Apalagi, bila kebetulan diberikan rezeki berlebih, dan mempunyai peluang untuk memperkejakan asisten rumah tangga dirumah, para ibu RT tidak bisa juga Tinggal Tunjuk saat ingin memenuhi kebutuhan atau keperluannya. Kenapa? Selain bahwa keperluan dan kebutuhan yang ada di dalam rumah adalah tanggung jawab kita sehingga kontrol penuh dibutuhkan untuk menghindari salah komunikasi dan menyebabkan akibat yang fatal, kita juga wajib memberikan arahan yang gamblang dan menghargai keberadaan asisten RT atau siapapun yang kebetulan membantu urusan kita mengelola rumah.
Lagipula, sikap Tinggal Tunjuk akan mengakibatkan hal-hal kurang menyenangkan diantaranya :
- Asisten menjadi kurang respect, merasa si nyonyah bersikap sok bossy, angkuh dan akhirnya akan bekerja rajin saat ada nyonyah dan bekerja seenaknya saat nyonyah tidak ada.
- Nyonyah jadi kurang dekat dengan asisten dan atau orang-orang yang membantu di rumah, akibatnya akan segan bila ingin minta bantuan mereka, padahal perlu banget. Gengsi.
- Karena terbiasa dilayani, maka nyonyah tidak mengenal keadaan rumah sendiri, tidak mengerti pekerjaan apa saja yang perlu dibereskan agar rumah tetap rapi dan nyaman. Maka, bila asisten tidak kembali sehabis cuti, Nyonyah jadi kerepotan dan kalang kabut membenahi rumah padahal itu rumah sendiri.
- Jiwa dan raga nyonyah jadi kurang sehat, wah gawat, kok bisa? Bisa banget, pertama raga tidak sehat diakibatkan stress, bila apa yang ditunjuknya dikerjakan tidak sesuai oleh sang asisten. Dan tentu saja raganyapun ikut tidak sehat, karena kurang gerak dan hanya mengandalkan gerakan jari saja.
Gak percaya? coba baca pengalaman Sumi
Suatu siang, di dapur rumah Nyonyah Broto, sedang sibuk asisten barunya,Sumi. Sang asisten sibuk memasak hidangan untuk dinner party nanti malam. Seperti biasa, sang nyonyah hanya duduk di kursi kebesaran sambil tunjuk ini itu tanpa mau terlibat langsung di medan pertempuran masakan.
Saat akan memasak sup
Maaf nyonyah, apalagi yang harus dipotong? Sumi ragu-ragu
nih.. yang ini jawab nyonyah Broto sambil menunjuk bawang Bombay
Selesai memotong
yang mana lagi ya nyah..? Tanya Sumi lagi
Ini bukan yang ini Nyonyah Broto gemas sambil menunjuk kembang kol
nah, Nyah udah selesai nih terus, ada lagi Nyah yang mesti dipotong?” Sumi bertanya lagi
Ini sum..yang ini Nyonya Broto mantap menunjuk wortel
Sumi nampak tengok kanan kiri, melihat sekeliling dia merasa tak ada lagi yang harus dipotong untuk keperluan sup.
Maap, yang mana ya nyah?
Ini Sumi aduh.. kamu gimana sih?
Oh.. yang itu nyah, OK deh..
Cress!!!
Sumiiiiiiiiiiiiiiiii. Wortel Sum bukan telunjukkkkkkkkkkk.!!!
Yaaaaahhh,,, habis nyonyah ngasih telunjuk mulu sih, ya maap.
Jawab sumi memelas setelah tanpa babibu, ia memotong jari telunjuk senjata andalan sang Nyonyah.
Nah lo
Makanya jangan biasain Tinggal Tunjuk, kalo salah info kan jadi berabe
Bagaimanapun hebatnya kita, seberapapun besar kemampuan yang kita punya, selayaknya kita dapat menghargai orang lain dan alangkah baiknya untuk memberikan contoh langsung (dengan tindakan) tidak hanya banyak ngomong apalagi Tinggal Tunjuk seperti kebanyakan boss di pilem-pilem. Karena bagaimanapun juga, asisten, karyawan atau siapaun yang membantu kita, akan lebih senang dan merasa di orang kan bila kita lebih banyak bertindak daripada berbicara nyablak..
Hehe,,,
Maap ya nyah, saya suma numpang share doang kok..
IyHa..
coment penuh senyuman