Sepakatkah dengan ungkapan,
Kemampuan mendengar seseorang lebih besar dari kemampuannya berbicara?
Saya? Tentu saja sepakat.
Bahwa, sebenarnya banyak sekali yang dapat kita dengar namun sedikit saja yang dapat kita sampaikan. Tapi dikenyataan sehari-hari, justru terbalik, kita lebih sering melihat orang yang ramai berbicara dan sedikit sekali yang mau mendengar. Apa jadinya? Bumi menjadi ramai, rusuh, hiruk pikuk.
Tengok saja, pertengkaran, salah faham, tangis kesedihan sampai perpecahan pun, banyak yang bermula dari apa yang kita katakan, apa yang keluar dari indera lisan. Namun, kearifan, kebijakan, kesabaran dan pemaafan, justru timbul dari kepekaan kita mendengar.
Teriakan, rengekan, bentak-bentakan, seakan menjadi hobby sebagian besar orang. Berbicara dianggap lebih berpower daripada mendengar, tapi tahukah Anda bahwa justru dengan mendengarlah, otak kita dapat menyaring informasi lebih banyak daripada saat kita sibuk berbicara. Otak mengolah informasi dari apa yang kita dengar kemudian mengeluarkan output berupa kata-kata yang kita produksi saat kita berbicara.
Kita akan mampu berkonsentrasi lebih, saat kita menajamkan pendengaran kita, tapi kita hampir tak dapat menerima informasi melalui telinga, saat kita hanya banyak berbicara. Kita hanya terfokus pada apa yang kita ucapkan, katakan, dan melupakan informasi yang masuk melalui telinga. Padahal kemampuan mendengar ini, yang sesungguhnya menentukan kecerdasan kita, bukanlah apa yang bisa kita katakan.
Yuk mulai sekarang
Sediakan lebih banyak waktu untuk mendengar,
daripada sibuk memproduksi kata-kata yang kurang bermakna..










coment penuh senyuman