Pengennya sih setiap hari, tapi kok susah sekali!
Huft, saya mulai sebal sendiri, rasanya pengen mengisi blog ini dengan berbagai coretan saya tiap hari, kok gak pernah bisa. Waktu? Ah, selalu saja jadi kambing hitam. Aslinya, saya yang terlalu menggampangkan, atau malah terlalu focus untuk mencapai target (mengisi blog tiap hari).
Focus, itu memang perlu. Gak ada satu pekerjaanpun yang akan selesai tanpa adanya focus atau perhatian penuh pada yang kita kerjakan. Tapi kelewat focus, justru akan menjadikan kita lelah, pengennya perfect, padahal gak ada yang bisa sempurna, sebagaimanapun fokusnya kita. Kelelahan yang menumpuk itu justru membuat kita tak melakukan apa-apa.
Siang kemaren, saya ada kesempatan silaturahim ke rumah kakak ipar. Kendaraan favorit saya, tentunya taksi (punya anak, repot bermanja-manja di boncengan belakang motor mas Nakho, hehe. OK, bukan soal kendaraan favorit, tentang motor apalagi tentang saya yang punya anak. Saya ingin bercerita bahwa bapak supir taksi yang sedang membawa kami itu, sudah punya 2 mobil, dan mobil sedang kita tumpangi itu adalah calon mobil ke 3 nya whats?? Pengen,hihih.
Bagaimana beliau bisa punya mobil, apalagi sampai 3? “Jangan terlalu mikirin bisa bayar cicilan atau gak mbak, yang penting kerja terus yang rajin, seperti biasa, kebutuhan rumah dulu terpenuhi, nanti lunas sendiri”
Memang, perusahaan tempatnya bekerja, menyediakan fasilitas “kredit” bagi para juru mudi, untuk bisa memiliki taksi yang sedang jadi tanggung jawabnya dengan cara memotong uang setoran wajib dijadikan angsuran. Kalau hari ini gak bisa memenuhi setoran, maka waktu pelunasan kredit tentunya mundur. Memudahkan, ya. Kalau begitu, semua juga bisa punya mobil..
Ups, jangan salah. Ada 3 hal yang saya garis bawahi, Kali ini saya tidak ingin bicara soal usaha dan doa, karena tentu dari semua keberhasilan, 2 elemen ini yang paling menentukan. 3 hal yang menurut saya menjawab “kenapa akhirnya si bapak ini bisa punya mobil”, diantaranya.
1. Niat
Niat, tentu saja. Semua karyawan di perusahaan taksi itu, ditawari kredit kepemilikan kendaraan ini. Tapi hanya sebagian saja yang mau mengambilnya. Alasannya tentu saja beragam karena setiap orang punya tolok ukur sendiri mengambil keputusan. Tapi, mereka yang mengambil kredit tersebut, tentunya punya niat yang kuat, disamping berani ambil resiko dan tentu saja percaya diri.
2. Prioritas
Kredit kepemilikan mobil itu, tidak wajib. Itu yang penting, kita harus ingat bahwa tentu saja yang menjadi kewajiban bapak supir taksi dan ayah manapun di dunia ini tentu memastikan nafkah untuk keluarganya, cukup. Bisa makan, bisa berpakaian pantas, dan bisa istirahat tenang tanpa gangguan panas hujan. Jadi, soal pembayaran kredit mobil tentu bukanlah prioritasnya. Yang pertama diperhatikan sungguh-sungguh adalah keluarganya. Trus kenapa mobilpun akhirnya terbayar? Karena semangat mengutamakan keluarga itulah mobilpun terbayar, karena kepemilikan mobil, sama juga dengan menyiapkan kenyamanan bagi keluarganya, walau bukan prioritas, tapi pasti diutamakan.
3. Managemen focus
Ini yang saya singgung diatas tadi. Bapak ini pandai memanagemen focus. Artinya, dalam pembayaran kredit mobil, beliau tentu memikirkan dan berusaha terus memenuhi, tapi tidak menjadikan itu beban apalagi sampai terobsesi dengan menghalalkan berbagai cara. Resepnya cukup, jalani saja, jangan terbebani, tapi tetap berusaha sepenuh hati. JIka kita terlalu focus pada beban kita, justru kita tidak akan pernah berusaha mencari tahu bagaimana cara mengurangi beban itu, ya kan??
Setiap orang punya target dalam hidupnya,
jangan pernah memikirkan APA tapi belajarlah mengurai BAGAIMANA mencapainya.
So, mari bekerja dengan happy, apapun beban kita.









coment penuh senyuman